Puasa & Hukum Penggunaan Pil KB

Posted on July 22, 2012 By

Wanita di zaman modern ini banyak yang menghadapi permasalahan kesehatan, yang berimbas pada masalah ibadahnya.   Khususnya yang berhubungan dengan darah yang keluar dari tubuh wanita tersebut dalam masa yang tidak biasa.  Apakah darah tersebut adalah darah haid yang mewajibkan menghentikan sholat dan puasanya? ataukah darah penyakit yang tidak mempunyai hukum layaknya darah haid ?.

Hal ini disebabkan karena sebagian pengobatan yang ada sekarang dapat menyebabkan perubahan pada hormon, dan mengakibatkan keluarnya darah. Salah satunya adalah pil pencegah kehamilan. Obat ini berisi hormon dalam bentuk pil yang diminum, dan mengandung campuran hormon esterogen dan progesteron .

Secara umum menggunakan obat hormon untuk mencegah kehamilan misalnya pil KB, mengandung mudharat. Oleh karena harus dilakukan pemeriksaan medis yang menyeluruh bagi perempuan sebelum mengkonsumsi obat yang mengandung hormon pencegah kehamilan, dan tidak berganti obat kecuali dengan resep dokter spesialis.

Mengkonsumsi pencegah kehamilan ada yang hukumnya boleh, dan ada yang haram sesuai dengan keadaan:

  1. Boleh dan tidak makruh, ketika ada kebutuhan untuk menggunakannya dan tidak ada mudharat  ketika mengkonsumsinya. Tetapi jika menggunakannya dengan tidak ada kebutuhan, maka hukumnya boleh tetapi makruh. Ini dianalogikan dengan ‘azal (mengeluarkan sperma di luar vagina-ed), menggunakannya termasuk kedalam kaedah syar’i “hukum asal segala sesuatu adalah boleh” dengan syarat tidak boleh ada mudharat terhadap pencegah kehamilan ini bagi laki-laki maupun perempuan.
  2. Antara makruh dan haram jika menggunakan pil pencegah kehamilan tanpa berkonsultasi dokter, tergantung keadaan dan riwayat kesehatan muslimah tersebut.
  3. Haram jika mengkonsumsi pil pencegah kehamilan yang sudah dapat dipastikan mudharatnya, berdasarkan sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam : Tidak boleh ada mudharad dan tidak boleh memudharadkan”, dan beramal dengan kaidah syari’at: “Hal yang memudharatkan wajib dihilangkan”.

Terdapat gejala-gejala yang diakibatkan mengkonsumsi pil pencegah kehamilan yang berdampak pada puasa.

  1. Pendarahan yang terus menerus dikarenakan mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.

Ini merupakan gejala yang paling sering ditimbulkan akibat mengkonsumsi pil pencegah kehamilan. Dalam ilmu fiqih perempuan yang mengkonsumi pil pencegah kehamilan dan terus menerus mengeluarkan darah, baik sedikit atau banyak, sehingga menjadi darah penyakit maka wajib meneruskan solat dan puasa, dan tidak batal puasanya dan tidak mengganti puasa yang wajib. Saat berakhirnya 21 hari dari mengkonsumsi pil ini maka keluarlah darah haidnya dan berlaku hukum haid padanya.

2. Keluarnya darah akibat lupa mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.

Hukum darah ini masuk pada perselisihan ulama, dan pendapat yang kuat yaitu darah yang keluar dengan sebab obat dianggap darah haid yang membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa, karena keluarnya darah ini disebabkan obat yaitu ia melalui penebalan selaput dinding rahim dan darah haid tempat asalnya juga selaput dinding rahim maka tatkala satu tempat asalnya maka hukumnyapun satu, dan syaria’at tidak membedakan antara dua hal yang sama.

3. Tidak keluarnya darah pada hari-hari haid akibat mengkonsumsi pil pencegah kehamilan..

Hukum perempuan menggunakan obat pencegah haid untuk dapat  berpuasa, boleh apabila terbebas dari mudharat, sekalipun hal itu makruh karena memungkinkan terjadinya mudharat. Sehingga puasa perempuan dimasa ia menghilangkan haidnya sah dan tidak wajib diganti karena ia dalam keadaan suci.

Puasa     ,