zakat 3

Posted on August 2, 2013 By

“Mata uang sekarang, uang kartal ( uang kertas ) bukan lagi emas dan perak, para ulama internasional dari berbagai negara telah melakukan Mu’tamar Internasional di selenggarakan oleh OKI  dan mereka memutuskan bahwa uang kartal yang ada sekarang baik Rupiah, Ringgit, Dolar, Riyal, dll disamakan dengan emas dan perak yang dimasa Rasulullah, sebagai nilai harga dan alat tukar, oleh karena itu sebagaimana dalam emas dan perak ada zakatnya maka uang kartal ada zakatnya (more…)

Uncategorized


zakat 2

Posted on July 30, 2013 By

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam saja ketika beliau selasai shalat terburu-buru ke rumahnya, sehingga para sahabat bertanya-tanya, lalu Rasulullah mengatakan di rumahku ada satu keping emas dan itu adalah bagian dari uang emas zakat yang belum disalurkan dan saya tidak ingin uang tersebut bermalam dirumah saya, kawatir nanti akan menghalangi saya nanti di akhirat(HR. Bukhari) (more…)

zakat


zakat

Posted on July 29, 2013 By

Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika dimasa pemerintahannya, sebagian kabilah enggan untuk mengeluarkan zakat yang dimasa Rasullah Salallahu Alaihi Wasallam mereka keluarkan, maka Abu Bakar sebelum memerangi orang-orang kafir beliau perangi dulu orang-orang ini, dan ternyata dengan izin Allah, ini adalah strategi yang sangat mengagumkan.  Karena orang-orang menganggap dalam kondisi begitu, mereka mampu membersihkan dari dalam. Maka darahpun di tumpahkan bukan sekedar basa basi, ini semua untuk siapa? Yaitu untuk orang-orang fakir miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta. Ini juga menunjukkan pentingnya zakat karena berkaitan dengan hak kaum fakir miskin. Yang penting diingat bahwa mereka tidak diperangi karena kafir, mereka masih muslim akan tetapi muslim yang fasik.

Kemudian ingatlah bahwa ketika kita berzakat, zakat tersebut tidak mengurangi harta kita.  Walaupun hakekatnya kekayaan kita berkurang 2,5  % dalam zakat perniagaan, emas dan perak, namun sebetulnya 2,5% yang kita keluarkan akan Allah lipat gandakan.  Satu kebaikan akan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan, kemudian Allah lipat gandakan kembali hingga mencapai 700 kali lipat.  Dan bagi orang-orang yang Allah kehendaki akan dilipat gandakan lebih dari 700 kali lipat tersebut. Allah berfirman :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menumbuh kembangkan sedekah”. (QS. Al Baqarah: 276). (more…)

zakat


Tambahan sub pembahasan cetakan ke-3 buku Harta Haram Muamalat Kontemporer

Posted on January 5, 2013 By

Supply Kontrak (Pre Order)

Termasuk juga transaksi yang menggunakan jasa telekomunikasi yaitu supply kontrak. Supply kontrak adalah : transaksi yang dilakukan salah satu pihak yang siap menyerahkan barang kepada pihak lain pada waktu tertentu, dimana objek barang terkadang masih berada di luar negri[1].

Misalnya: Jasa perdagangan A mengetahui produsen barang yang berada di luar negri melalui salah satu jaringan telekomunikasi. Lalu A menawarkan penjualan barang tersebut kepada pedagang B di Indonesia. Setelah B menyetujuinya, ia melakukan transaksi beli kepada A. dan setelah transaksi jual dilakukan A kepada B, maka A membeli barang dari produsen di luar negri. Dan setelah barang yang dipesan tiba di Indonesia A menyerahkannya kepada B.

Hukum Supply Kontrak

Hukum transaksi ini berbeda berdasarkan status barang:

–          Barang yang menjadi objek transaksi belum tersedia dan butuh proses pembuatan.

Transaksi ini dinamakan istishna’  hukumnya boleh, baik pembayaran dilakukan di depan, pada saat barang diterima atau dengan cara angsuran berkala. Berdasarkan dalil berikut:

.. dowload lebih lengkap ke link ini

Uncategorized


FIKIH PUASA KONTEMPORER

Posted on August 16, 2012 By

 

Artikel-artikel sebelumnya merupakan ringkasan Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Fikih Puasa Kontemporer) Dr Muhammad Al Madhaghi. Beliau saat ini bekerja sebagai Konsultan Senior Syariah di Bank Rajhi, Arab Saudi. Beliau merupakan Doktor Fikih dari Universitas Islam Muhammad bin Saud, Riyadh, disertasi beliau mengenai Fikih Kontemporer mengenai Kehamilan & Kelahiran.

Fikih Puasa Kontemporer merupakan makalah yang beliau sampaikan selama Ramadhan di Radio Al Qur’an di Qatar. Alhamdulillah Dr Erwandi Tarmizi yang merupakan teman dan tetangga beliau di Riyadh mendapatkan kopi makalah  tersebut dan diizinkan untuk dipublikasikan.

Seluruh artikel ini telah diterjemahkan oleh ustadz Erfan Doni, Lc, kemudian oleh editor diseleksi mengenai permasalah yang banyak terjadi di Indonesia.

Melalui publikasi ini diharapkan kaum muslimin Indonesia mengetahui bagaimana para ulama berijtihad mengeluarkan hukum-hukum yang bersifat kontemporer-jazaahumullah khair jazaa-. Dengan demikian kita, sesama muslim bisa saling memahami dan menghormati jika ternyata ada terdapat perbedaan pandangan dengan yang selama ini kita yakini, dan apalah ilmu kita dibandingkan kumpulan berbagai pakar yang tergabung dalam OKI.

Dengan membaca artikel-artikel yang telah berlalu semoga kita sebagai muslim bertambah yakin bahwa islam adalah “way of life”, karena hanya dien inilah yang masih berkembang sesuai dengan zaman dan fitrah manusia, bandingkan dengan agama yang lain. Dan yang lebih penting lagi, apakah kita sudah menjadi muslim yang sesuai dengan yang diinginkan oleh Rabb kita?…

Berikut ini kami hadirkan kesimpulan lengkap keputusan Majma’ Al fiqih Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan ke X no.93  mengenai hal-hal yang tidak membatalkan puasa, antara lain:

  1. Tetes  mata, tetes telinga, cuci telinga, tetes hidung, semprot hidung, apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak masuk ke tenggorokan.
  2. Memakai obat yang diletakkan di bawah lidah untuk pengobatan dan lainnya apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak masuk ke kerongkongan.
  3. Sesuatu yang dimasukkan ke vagina seperti supositoria, pencuci vagina atau endoskopi vagina atau jari untuk pemeriksaan kedokteran.
  4. Memasukkan kamera atau spiral dan sejenisnya ke rahim.
  5. Sesuatu yang dimasukkan ke uretra yaitu jalan kencing bagian luar pada laki-laki dan perempuan berupa kateter atau kamera atau bahan pewarna untuk penyinaran, obat atau larutan untuk mencuci kandung kemih.
  6. Membor, mencabut, atau membersihkan gigi, bersiwak, dan menggunakan sikat gigi, apabila berhati-hati dan tidak tertelan ke kerongkongan.
  7. Berkumur-kumur, semprot obat di mulut apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak tertelan ke kerongkongan.
  8. Suntik obat di kulit, otot, atau pembuluh darah yang cairannya tidak mengandung  nutrisi.
  9. Gas oksigen.
  10. Gas bius selama pasien tidak diberikan cairan nutrisi.
  11. Sesuatu yang masuk ke tubuh melalui penyerapan dari kulit seperti minyak, salep, obat tempel kulit yang mengandung bahan obat kimia.
  12. Memasukkan kateter pada arteri untuk menampilkan gambar, pengobatan pembuluh darah jantung, atau yang lainnya di anggota tubuh.
  13. Memasukkan kamera melalui dinding perut untuk pemeriksaan bagian dalam perut atau melakukan operasi.
  14. Mengambil sebagian dari hati atau lainya dari anggota selama tidak menggunakan pemberian infus.
  15. Endoskopi lambung apabila tidak disertai memasukkan cairan (infus) atau bahan lainnya.
  16. Memasukkan alat atau bahan obat ke otak, atau sumsum tulang belakang.
  17. Muntah yang tidak disengaja, bukan dengan sengaja.

By Editor

Puasa


Hukum Menggunakan Oksigen ketika Berpuasa

Posted on August 16, 2012 By

 

Jumlah manusia yang membutuhkan oksigen tambahan setiap harinya selalu bertambah, seperti : pasien paru-paru, bronchitis kronis, kanker paru-paru, pasien gagal jantung.

Ada tiga jenis oksigen tambahan yang digunakan untuk pengobatan, antara lain oksigen  tabung, oksigen cair yang apabila disemprotkan kembali ke wujud aslinya yang berupa gas, dan  oksigen dari udara langsung.

Tidak ada permasalahan tentang batalnya puasa  menggunakan oksigen dari tabung dan udara bebas, karena keduanya berupa gas. Hanya saja sebagian ulama mempermasalahkan hukum menggunakan oksigen cair.  Tetapi sesungguhnya oksigen cair apabila dilepaskan dari tempatnya, akan kembali ke bentuk aslinya yaitu berupa gas.

Maka penggunaan oksigen cair tidak membatalkan puasa karena ia murni gas yang masuk ke saluran pernafasan, dan lambung tidak menyerap cairannya sedikitpun. Tidak seorangpun mengatakan bernafas atau menghirup udara, dapat membatalkan  puasa.

Maj’ma Al Fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapat tahunan ke X no.93 memutuskan dalam menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : ( 9. Gas oksigen ).

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Apakah Endoskopi membatalkan Puasa ?

Posted on August 15, 2012 By

ِ

Endoskopi diperlukan dokter untuk melihat keadaan di dalam lambung; diagnosis luka, peradangan atau lainnya, diagnosis kerongkongan atau usus dua belas jari.

Endoskopi bukanlah operasi, tetapi pasien diberikan obat penenang pada pembuluh vena. Kemudian dokter menyemprotkan bius lokal di kerongkongan pasien untuk mencegah muntah maupun batuk ketika alat dimasukkan.   Pasien berbaring miring ke kiri, kemudian dokter memasukkan alat melalui mulutnya terus ke kerongkongan, lambung dan usus dua belas jari, dokter mengarahkan alat tersebut dengan mendorong atau menariknya.

Ulama-ulama dahulu telah membahas masalah ini dalam masalah (sesuatu yang masuk ke kerongkongan yang bukan makanan, seperti batu kerikil atau potongan besi maupun yang lainnya, ini seperti endoskopi; apakah membatalkan puasa?)

Terjadi dua pendapat :

1. Pendapatan pertama mengatakan batal.

Jumhur ulama mengatakan hal tersebut membatalkan puasa karena setiap yang sampai ke kerongkongan maka membatalkan puasa dan tidak mensyaratkan menetapnya benda tersebut di dalam. Sdangkan mazhab Hanafi mensyaratkan bahwa benda tersebut harus menetap di dalam.

Jumhur berdalil bahwa  Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menghindari bercelak saat berpuasa. Oleh karena itu endoskopi membatalkan puasa dengan.

2. Pendapat kedua mengatakan  tidak batal puasa.

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah dan sebagian Malikiyah mengatakan bahwa memasukkan apapun ke dalam kerongkongan asalkan bukan makanan dan minuman, seperti memasukkan besi atau batu kerikil tidak membatalkan puasa. Selain itu, mereka mengatakan sesungguhnya hadis perintah untuk menghindari bercelak bagi orang berpuasa adalah lemah.

Allahu ‘alam, pendapat yang kuat adalah endoskopi tidak membatalkan puasa, karena endoskopi bersifat sementara.  Hanya untuk merekam kemudian dikeluarkan, dan bukan makan dan minum maupun yang menyerupai keduanya.

Sesuatu yang pasti tidak bisa di hapus dengan yang masih ragu.  Sahnya puasa sesuatu yang pasti,  sedangkan batalnya puasa dengan endoskopi masih diragukan, maka kita tetapkan yang asal, yaitu sahnya puasa.

Akan tetapi jika ujung kamera dilumasi minyak atau pelumas untuk memudahkan mengarahkan alat, atau dokter menyemprotkan pewarna khusus, maka dapat membatalkan puasa.  Karena masuknya bahan tersebut menetap di dalam dan tidak keluar ketika alat dikeluarkan.  Minyak tersebut berbentuk cair, sehingga dapat masuk ke lambung.  Demikian juga jika endoskopi sarana untuk memasukkan obat ke dalam lambung.

Telah ditetapkan dalam keputusan Majma’ Al fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) pada rapat tahunan yang ke X no.93 dalam menyebutkan hal-hal yang dianggap tidak membatalkan puasa : ( endoskopi apabila tidak memakai cairan ataupun lainnya ).

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Hukum Menghirup Minyak Wangi Saat Berpuasa

Posted on August 15, 2012 By

 

Menghirup minyak wangi tidak membatalkan puasa, karena ia dibutuhkan oleh banyak orang. Seandainya membatalkan puasa, pastilah Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya, sebagaimana beliau menjelaskan hukum yang dibutuhkan masyarakat secara umum lainnya.  Tidak ada satu hadispun yang disandarkan pada beliau dalam masalah ini, menunjukkan bolehnya menghirup minyak wangi bagi orang puasa.

Asal hukum segala sesuatu adalah boleh. Sebagaimana mencium bau tidak bisa di hindari setiap orang, dan juga tidak masuk ke kerongkongan.  Mencium parfum tidak menghilangkan hakikat puasa, karena bukan makan dan minum, menghirupnya bukan berarti memasukkan makanan atau minuman, tetapi ia seperti bernafas, telah dimaklumi bahwa bernafas bukanlah hal yang membatalkan puasa.

Tetapi ulama mazhab Maliki dan Syafi’i memakruhkan memakai minyak wangi bagi orang berpuasa. Dikarenakan menghindari memakai minyak wangi dapat mencegah anggota badan untuk tidak melakukan hal yang diinginkan yang dapat melemahkan jiwa terhadap nafsu dan menguatkan jiwa untuk melakukan ketaatan.

Namun menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, dan merupakan pendapat yang lebih kuat adalah menggunakan minyak wangi saat berpuasa tidak makruh. Karena sesungguhnya lemahnya jiwa terhadap nafsu, serta kuat untuk melakukan ketaatan, adalah dengan menghindari apa-apa yang membatalkan puasa -yang nampak maupun yang tidak tampak- yang telah diterangkan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist-hadistnya.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fis Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Hukum Penggunaan Obat Tetes hidung saat Berpuasa

Posted on August 11, 2012 By

 

Para ulama sepakat bahwa orang berpuasa apabila memasukkan cairan obat, atau yang semisalnya selama tidak melampai hidung, tidak membatalkan puasa dan tidak wajib mengganti puasanya. Ini dianalogikan dengan menghirup air ketika berwudu’ saat puasa.

Tetapi ulama berselisih pendapat, apabila obat yang dimasukkan hingga melampai hidung, sehingga masuk ke tenggorokan bahkan ke kerongkongan. Apakah hal itu membatalkan puasa, sehingga wajib mengganti puasanya atau tidak?.

Pendapat pertama : membatalkan puasa.

Berdalil dengan hadist Laqith bin Shabrah bahwa ia berkata, Ya Rasulullah beritahukan padaku tentang wudhu’!”. Beliau bersabda “ Berlebih-lebihanlah ketika berwudhu’. Dan berlebih-lebihanlah menghirup air, kecuali engkau sedang berpuasa”.

Mereka mengatakan, bahwa ini menunjukkan bahwa hidung akses menuju lambung. Oleh karena itu menggunakan obat tetes hidung dilarang oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi –Salallahu alaihi wasallam- melarang berlebih-lebihan menghirup air, termasuk larangan untuk memasukkan sesuatu melalui hidung, walaupun sedikit, karena air yang masuk ke tenggorokan melalui hidung sangat sedikit ketika berlebih-lebihan menghirup air.

Syeikh Ibnu Utsaimin- Rahimahullah- berkata : “ Adapun obat tetes hidung apabila sampai ke lambung maka membatalkan puasa, adapun apabila tidak sampai ke lambung maka tidak membatalkan puasa”.

Pendapat kedua : tidak membatalkan puasa.

Mereka berpendapat bahwa tetes hidung bukan makan dan minum dan tidak semakna dengan keduanya. Pada dasarnya puasa adalah sah, batalnya puasa dengan tetes hidung masih diragukan. Dan sesuatu yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan yang ragu. Juga satu tetes adalah jumlah yang sangat sedikit, apabila melewati hidung, tidak akan masuk ke lambung, kecuali hanya sangat sedikit, sehingga di maafkan, sama seperti air yang tersisa di mulut ketika berkumur-kumur.

Majma’ Al fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapatnya yang ke X no.93  menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : ( tetes hidung, inhaler hidung, apabila berhati-hati agar tidak tertelan ).

Kedua pendapat ini  sama kuatnya, tetes hidung dianggap tidak membatalkan puasa karena sangat sedikit yang masuk ke lambung. Akan tetapi, tetes hidung apabila dipastikan masuk ke tenggorokan maka menggunakannya membatalkan puasa, karena sengaja memasukkan sesuatu ke saluran pencernaan. Adapun apabila masih diragukan masuknya ke tenggorokan maka tidak membatalkan puasa, sekalipun dirasakan di kerongkongan, Sebagaimana perkataan ulama mazhab Hanbali tentang orang yang berlebih-lebihan menghirup air ketika berwudhu’ maka masuk ke kerongkongannya tanpa sengaja.

Yang lebih afdhol bagi orang berpuasa menghindari segala yang dapat merusak puasanya, dan menjaga puasanya.  Apabila terpaksa menggunakan obat tetes hidung karena sakit yang parah, atau menjadi lambat sembuhnya, atau jika tidak diobati akan bertambah parah, maka tidak mengapa menggunakannya akan tetapi jika masuk sesuatu ke tenggorokan maka sebaiknya mengganti puasa untuk kehati-hatian dalam ibadah, dan untuk keluar dari perselisihan ulama, tetapi mengganti puasa ini tidak wajib. Allahu a’lam.

Kita memohon pada Allah untuk agar diberikan pemahaman masalah agama dan  diberi taufik untuk beramal shalih.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Hukum Penggunaan Minyak Oles, Salep dan Obat Tempel saat Berpuasa

Posted on August 10, 2012 By

 

Di dalam kulit terdapat pembuluh-pembuluh darah yang akan  menyerap sesuatu yang diletakkan di atas kuli, melalui pembuluh kapiler, penyerapan ini berjalan sangat lambat.

Sebagian obat dapat sampai keseluruh tubuh melalui obat yang ditempelkan diatas kulit. Melalui penempelan obat tersebut, kemudian masuk ke dalam kulit secara pelan-pelan dan terus menerus dalam beberapa jam, hari, bahkan lebih.  Hal tersebut bertujuan agar jumlah obat tersebut senantiasa tetap di dalam darah.

Obat yang ditempel sangat bermanfaat untuk memasukkan obat yang  diserap tubuh dengan cepat.  Karena obat jenis ini apabila digunakan dengan cara lain, haruslah digunakan terus menerus.   Oleh karena itu, obat-obat yang mungkin pemberiannya melalui penempelan, hanya obat yang berdosis kecil setiap harinya, seperti nitrogliserin patch untuk penderita angina, nikotin yang di tempelkan untuk membantu berhenti dari merokok, dll.

Para ulama dahulu telah sepakat sesungguhnya sesuatu yang diletakkan di atas kulit seperti krim, balsem, inai atau yang lainya di siang bulan Ramadhan tidak membatalkan puasa, berdasarkan alasan-alasan berikut ini :

1. Sesungguhnya boleh bagi orang yang berpuasa mandi, padahal tubuhnya bersentuhan dengan air, melembabkannya serta masuk ke pori-pori kulit. Oleh karena itu boleh juga menggunakan yang semisalnya seperti minyak dan lain-lain.

2. Mengoleskan minyak di badan merupakan kebutuhan kebanyakan orang, seandainya membatalkan puasa tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Terlebih lagi badan dapat menyerap minyak, maka tatkala Beliau tidak menjelaskan, menunjukkan bahwa itu adalah boleh.

3.  Sesungguhnya  krim, balsem, yang dioleskan di atas kulit untuk pengobatan   tidak dapat masuk ke lambung.

Dari alasan-alasan di atas maka minyak oles, balsem, obat yang ditempel pada permukaan kulit tidak membatalkan puasa. Majma’ Al Fiqhi Al Islami ( divisi OKI ) memutuskan dalam rapat tahunan ke X no. 93 dalam menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa: ( 11. Sesuatu yang masuk ke tubuh yang dihisap oleh kulit seperti minyak oles, salep, obat-obat yang ditempel di kulit).

Hukum tersebut juga berlaku untuk krim, pelembab kulit, perawatan wajah modern, pemutih wajah, lipstick, blush on, maka ini semua tidak membatalkan puasa.  Akan tetapi bagi wanita yang sedang berpuasa, hendaknya menjaga lipstick tidak masuk ke tenggorokan melalui mulut ketika berbicara.  Dan ketika melembabkan bibir dengan lidah, karena lipstick apabila bercampur dengan air ludah dan sengaja menelannya ke tenggorokan dapat membatalkan puasa.

Bedak untuk mewangikan badan juga tidak membatalkan puasa dengan syarat yang menggunakannya berhati-hati agar tidak tertelan ke kerongkongan. Apabila masuk ke kerongkongan dengan sengaja maka puasanya batal, jika tidak sengaja maka tidak batal.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa