zakat 4

Posted on August 6, 2013 By

Kewajiban zakat perniagaan berdasarkan beberapa dalil; yang pertama diriwayatkan dari Nabi oleh Abu Dawud walaupun sanad hadist ini dikatakan oleh Al Hafidz: bahwa Rosululloh memerintahkan untuk mengeluarkan zakat sesuatu barang yang diperuntukkan untuk diperjual belikan.

Kemudian juga yang diriwayatkan oleh banyak ulama, diantaranya dari Umar Bin Khatab yang beliau mengatakan kepada seorang laiki-laki keluarkanlah zakat hartamu.  Dan dia mengatakan bahwa dia tidak memiliki apapun kecuali kulit-kulit dan barang-barang ini untuk saya perjualbelikan.  Lalu kata Umar, taksir berapa harga harta yang engkau perdagangkan tersebut, dan tentulah jika telah mencukupi satu nishab, kemudian sampai satu haul, keluarkanlah zakat hartamu…

(more…)

zakat    


zakat fitrah

Posted on August 5, 2013 By

Rasulullah mewajibkan  zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang fakir miskin

 

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah robbil ‘alamin wabihi nasta’in wa nushalli wa nusallim wamubarik ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi waman tabi’ahum bi ihsan ila yaumiddin wa ba’du :

Kaum muslimin, kaum muslimat, para pendengar radio Rodja dan para pemirsa tv rodja yang dimuliakan Allah, kita sampai pada pembahasan terakhir dari pembahasan zakat, yaitu pembahasan tentang zakat fitrah.

Zakat fitrah merupakan kewajiban yang difardhukan oleh Rasulullah SAW kepada setiap muslim, yang sebab wajibnya adalah karena berbuka dari puasa, berdasarkan hadist Ibnu Abbas yang diriwayat oleh Abu Daud dan Hakim dalam Mustadroknya dan beliau mengatakan shahih berdasarkan syarat shahih Imam Bukhori, tetapi Imam bukhori tidak  menyebutkan dalam kitab shahihnya, dan Imam Zhahabi menyetujui perkataan Hakim, bahwa Ibnu Abbas mengatakan : “ bahwa Rasulullah mewajibkan  zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang fakir miskin” .

Sebagaimana zakat Maal maka zakat fitrah juga mempunyai syarat wajib, adapun zakat fitrah syarat wajibnya yaitu :

  1. Muslim, maka yang tidak muslim tidak ada kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Tidak disyaratkan laki-laki, baligh dan berakal. Maka setiap muslim diwajibkan membayar zakat fitrah. Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : “ Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebanyak 1 sho’ dari kurma atau gandum bagi setiap muslim baik laki maupun perempuan yang merdeka,budak,orang tua, anak kecil”. Hadist ini diriwayatkan oleh Imam bukhari. Maka setiap muslim wajib membayar zakat fitrah walaupun budak.
  2. Nisab (harta yang harus dimiliki) berbeda dengan zakat maal yang telah kita jelaskan. Zakat fitrah bila seseorang telah memiliki makanan untuk idul fitri maka yang berlebih dari makanan tersebut walaupun kurang dari 1 sho’ maka wajib dikeluarkan zakat fitrahnya, maka seorang fakir miskin yang mendapatkan zakat sebelum waktu wajib dihari terakhir Ramadhan dia menerima zakat fitrah 10 sho’ atau lebih untuk dia dan kelurganya pada hari esoknya, dipisahkan untuk kebutuhannya dan keluarga dan sisanya di zakatkan sesuai dengan zakat fitrah yang harus dikeluarkannya, andai dia menerima setelah masuk waktu wajibnya, umpamanya ditengah malam ada orang yang memberikan zakat fitrah dalam jumlah yang besar, maka tidak ada lagi kewajiban untuknya.

Siapakah yang harus mengeluarkan zakat fitrah ini?

Para ulama mengatakan berdasarkan atsar Ibnu Abbas RA bahwa beliau mengeluarkan zakat fitrah untuk dirinya, keluarganya, dan bahkan untuk Nafi’ bekas budaknya, maka siapa yang menanggung makan seseorang nafkahnya maka dialah yang mengeluarkan zakat fitrah dari orang-orang yang ditanggung nafkahnya oleh dia.

Kapan waktu wajib zakat fitrah dikeluarkan ?

 Berdasarkan hadist Ibnu Umar tadi bahwa Rasulullah SAW mengatakan ” Rasulullah mewajibkan saat berbuka di hari terakhir bulan Ramadhan”, waktu berbuka yaitu ketika terbenam matahari. Akan tetapi dibolehkan mengeluarkan 1 atau 2 hari sebelum waktu wajibnya, namun sebagian ulama mengatakan dan ini merupakan Mazhab Syafi’i bahwa boleh juga dikeluarkan dari awal bulan Ramadhan, karena menurut mereka zakat ini diwajibkan karena “ fitri” (berbuka) dan berpuasa maka bila salah satu penyebabnya ada seperti mulai masuk bulan ramadhan maka sudah di benarkan menurut mazhab Syafi’i, akan tetapi pendapat yang kuat berdasarkan atsar dari Ibnu Umar tadi bahwa 1 atau 2 hari sebelumnya dibolehkan, walaupun sebelum waktu wajibnya yaitu pada waktu terbenam matahari di hari terakhir bulan Ramadhan.

Kapankah berakhir waktu zakat fitrah ini ?

 Zakat fitrah berakhir pada waktu didirikannya shalat I’dul fitri, bila didirikan shalat I’ed maka berakhirlah waktu mengeluarkan zakat fitrah, berdasarkan hadist Ibnu Abbas “Siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat I’ed fitri maka diterima oleh Allah, barang siapa yang membayarnya setelah shalat I’ed fitri maka dia hanya sedekah biasa”.  Akan tetapi tetap dia mengeluarkan sebagai zakat fitrah, tetapi sudah lewat waktu wajibnya.

Dimana zakat fitrah diberikan?

 Zakat fitrah mengikuti kebaradaan orang yang berfitrah pada waktu masuk waktu wajibnya. Waktu wajibnya kita katakan di waktu terbenam dihari terakhir bulan Ramadhan, dan boleh 1 atau 2 hari sebelumnya, maka dimana keberadaan seorang muslim pada hari-hari tersebut maka disanalah afdhalnya dia mengeluarkan zakat fitrah, akan tetapi dibolehkan juga bila ada kebutuhan atau kemashlahatan bagi kaum muslimin untuk dipindahkan zakat fitrah tersebut, andai umpamanya di iklim yang lain atau didaerah yang lain sangat membutuhkan dan batasan daerah ini berbeda para ulama dalam radius 80 km, itu masih dinamakan dalam negerinya, keluar dari itu baru dinamakan memindahkan kenegeri yang lain, bila dia beda kecamatan tapi masih dalam jarak masih 80 km belum dianggap memindahkan zakat, walaupun yang terbaik yaitu yang terdekat dengan daerahnya, tetapi bila ada karib kerabatnya yang agak jauh dari daerahnya yang lebih membutuhkan juga maka tidak mengapa diberikan kepada mereka.

Berapa ukuran wajib dikeluarkan?

 Dari hadist  Abi Sa’id Al khudri bahwa biliau mengatakan : “ Kami seluruhnya ketika masa Rasulullah SAW mengeluarkan 1 sha’ dari makananan pokok kami, dan adalah makanan pokok kami ketika itu adalah kurma, kismis, anggur, susu yang dikeringkan”.

Ukuran 1 sha’ sudah kita jelaskan kemarin, terjadi perbedaan diantara ulama berdasarkan perbedaan pendapat  mereka pada sha’ Nabawi, ada yang mengambil ukuran rata-rata sha’ dari ukuran telapak tangan, maka ini lebih sedikit dari ukuran dengan ukuran Zaid bin Tsabit bahwasanya sekitar 3,25 liter bila di ukur dengan berat sekitar 2,5 kg ±, tetapi 2,5 kg sudah bisa dikatakan sama dengan sha’ Rasulullah SAW bahkan lebih.

Bolehkah dikeluarkan berupa uang sebagai ganti dari makanan pokok tersebut ? makanan pokok di indonesia adalah beras maka bolehkah diganti dengan uang?

Bila kita keluarkan uang, kemudian kita meminta kepada yang mewakilkan atau kepada pihak yang mengumpulkan zakat agar dibelikan beras maka tidak ada perbedaan para ulama bahwa itu boleh. Akan tetapi kalau memang uang yang langsung kita berikan pada fakir miskin inilah yang ada perbedaan para ulama. Sebagian para ulama mengatakan bahwanya sah dan ini adalah pendapat dari Abu Hanifah, berdasarkan tujuan kemashlahatan menurut mereka bahwa kemaslahatan baiknya bagi fakir miskin mereka menerima uang, mereka bisa memenuhi kebutuhan mereka di hari itu mungkin untuk pakaian dll.

Akan tetapi mayoritas ulama Mazhab Malikiah, Syafi’iah dan Hanabilah mereka mengatakan tidak boleh dengan uang dan tidak sah dengan uang, karena dari hadist Abi Sa’id Al Khudri tadi mengatakan “ Kami dahulu dimasa Rasulullah mengeluarkan zakat fitrah 1 sha’ dari makanan pokok”, tidak pernah mereka mengeluarkan dalam bentuk uang, kemudian Rasulullah juga mengatakan “ memberi makan bagi fakir miskin”, memberi makan adalah berupa makanan. Allahu Ta’ala A’lam. Untuk menggugurkan kewajiban kita kepada Allah sebaiknya keluarkanlah makanan pokok sebanyak 1 sha’.

Kepada siapa dibagikan zakat fitrah ini ?

Mayoritas ulama mengatakan,dan ini Mazhab Syafi’iah dan Hanabilah bahwasanya sama yaitu dibagikan pada Asnaf yang delapan, karena Allah SWT mengatakan secara umum dalam firmanNya “Sesungguhnya sedekah untuk orang fakir,miskin dan seterusnya” (QS 9: 60) di dalam ayat tersebut ada kata “ As Shadakaat” menggunakan kata isim jama’ yang dimasuki alif laam memfaedahkan umum atau mutlak, maka seluruh jenis sedekah termasuk zakat fitrah dan maal  adalah untuk asnaf yang delapan.

Tetapi sebagian ulama memilih bahwa di dalam hadist-hadist Rasulullah mengatakan alasannya adalah untuk dimakan oleh fakir miskin, hampir seluruh hadist-hadist yang mengenai zakat fitrah adalah untuk fakir miskin, sekalipun mayoritas ulama membolehkan, berikanlah prioritas lebih untuk asnaf yang pertama yaitu fakir miskin. Allahu a’lam.

Pertanyaan :

Assalamu alaikum ustaz.

  1. Apakah boleh zakat fitrah atau zakat maal di salurkan ke yayasan seperti masjid, madrasah atau untuk membeli tanah untuk pekuburan umum?
  2. Saya seorang pedagang, beberapa waktu yang lalu usaha kami hampir bangkrut, kemudian saya meminjam uang disalah satu bank, dan alhamdulillah dari uang tadi saya putar kembali dan usaha kami mulai bangkit kembali, yang jadi pertanyaan, tahun ini kami akan berangkat menunaikan ibadah haji dengan uang yang kami putar dari pinjaman dari bank tersebut, hukumnya bagaimana ust?
  3. Sekarangkan ongkos naik haji di wilayah kami sekitar ±35 juta apakah wajib dikeluarkan zakatnya atau tidak?
  4. Di masjid kami sempat terjadi perbedaan pendapat waktu wajib mengeluarkan zakat, apakah dimalam I’ed fitri ataukah subuh sebelum pergi untuk shalat I’ed ?
  5. Ada ibu-ibu yang datang kerumah saya, dia mengaku sebagai pengurus anak yatim, kemudian kita janji mau beri zakat fitrah ke dia ternyata ada yang mengenalnya dia dan mengatakan bahwa anak yatim itu adalah anaknya sendiri, tapi dia tergolong miskin. Apakah tetap kita berikan pada dia atau tidak?

Jawaban :

  1. Bahwa zakat terutama zakat fitrah, maka seperti yang kita katakan tadi sebagian ulama mengatakan jangankan untuk pekuburan umum atau untuk masjid, untuk yang ibnu sabil, amil, mu’allaf menurut sebagian ulama tidak boleh. Yang boleh hanya untuk fakir miskin saja, karena hadist-hadist tersebut menyatakan untuk memberi makan fakir miskin, dan memang beras, beras untuk membangun masjid maka dibutuhkan berapa ton? Dijual dan dibeli untuk tanah pekuburan habis zakat kaum muslimin di dua negeri baru mungkin bisa memenuhinya, maka hikmahnya dalam zakat fitrah utamakanlah fakir dan miskin.

Adapun zakat maal sudah tertentu juga yang mustahiqnya, sebagaimana yang telah kita jelaskan pada pertemuan yang lalu. Allah mengatakan dengan lafaz “ innama” hanyasanya kemudian “lil fuqara” untuk orang fakir, maka orang-orang yang berusaha mengambil pendapat yang dikatakan Arrozi dalam tafsirnya, kemudian dinukil dari Al Qaffal pendapatnya lemah sekali, bahwa makna “fi sabilillah” di artikan sangat luas sehingga bisa masjid, pekuburan dll, maka ini pendapat yang sangat lemah sekali. Kwatir anda diamanahkan anda sendiri yang memberikan zakat untuk itu dan tidak diterima oleh Allah sebagai zakat dan tidak selesai kewajiban dan anda harus membayar kembali. Maka berikanlah untuk fi sabillah yang jelas;  yaitu untuk mujahid atau dengan makna yang lebih umum yaitu untu para penuntut ilmu juga boleh, para ustaz boleh, kemudian untuk belajar mengajar ilmu agama masih masuk dalam jihad fi sabilillah. Allahu A’lam. Maka jangan di gunakan untuk masjid dan pekuburan karena ini saluran tersendiri yaitu waqaf.

  1. 35 juta bila sama dengan 85 gram emas dan telah tersimpan selama satu tahun maka terkena zakat, dengan syarat sampai satu tahun, akan tetapi bila statusnya adalah pinjaman maka kewajiban zakat tidak ada dan juga haji tidak ada kewajiban, tapi bila dia ingin berangkat juga dengan uang tersebut maka tetap sah, akan tetapi belum wajib baginya. Yang lebih afdal dia tidak melakukan ibadah haji, karena haji adalah wajib bagi orang-orang mampu dan ketika dia berhutang dia harus memberikan hak manusia, maka sebetulnya dia belum mampu. Dan apakah uang tadi ada zakatnya? Ada zakatnya karena ada ditangannya dan tidak dibayarkannya, bila dibayarkannya hutang tersebut dan jadi berkurang nisabnya baru tidak ada zakat dan ini sepertinya ini belum dibayarkan karena dengan cicilan jatuh tempo yang agak panjang sehingga demikian belum dibayarkannya dan sampai nisab maka terkena zakat. Allahu a’lam.
  2. Waktu wajibnya dengan terbenam matahari sore, maghribnya sudah diperbolehkan.  Tetapi mana yang lebih afdhol, maka sebelum sholat pagi hari.  Tetapi jika anda khawatir tidak mendapatkan mustahiqnya pada pagi hari ini, karena mereka juga sedang sibuk bersiap-siap untuk keperluan pada hari tersebut, dan siap-siap untuk berangkat sholat iedul fitri, maka sebaiknya malam lebih baik juga bila dikhawatirkan pada pagi hari itu tidak menemukan orang yang menerimanya. 
  3. Bila ibu ini memang masih mustahiq zakat karena statusnya masih miskin tapi dengan cara berbohong maka tidak baik.  Maka tidak ada salahnya untuk datang ketempat ibu tadi dan melihat apakah dia memang mustahiq zakat atau tidak.  Tapi dari madzhar, tampak dari penampilannya dan zhon anda kuat bahwa dia adalah mustahiq, berikan dan itu tidak mengapa.  Tetapi caranya berbohong, maka diingatkan saja ibu ini.

Pertanyaan :

Apakah bayi yang baru lahir ada kewajiban zakatnya? Kalau ada, bukankah bayi lahir dalam keadaan suci ?

Jawaban :

Bayi yang lahir setelah lewat waktu wajib zakat fitrah,umpanya lahir setelah terbenam matahari terakhir dibulan ramadhan, maka para ulama mengatakan tidak ada kewajiban zakatnya, tapi kalau dia lahir sebelum terbenam matahari,disore hari lahir maka ada kewajiban, sekalipun tidak ada dosanya, karena Rasulullah mengatakan “ diwajibkan atas anak kecil dan orang dewasa”.

Dan bila dia lahir sebelum waktu wajib berarti dia terkena waktu wajib zakat fitrah, kalau tidak maka tidak terkena kewajiban zakat fitrah, umpanya setelah masuk waktu zakat fitrah lahir,misalnya ba’da isya di malam I’edul fitri maka tidak ada kewajiban zakat fitrah.

Tetapi disunnahkan juga dia mengeluarkan zakat fitrah untuk anak ini dan dari janinpun bila kehamilan telah masuk 4 bulan maka disunnahkan juga, sebagaimana atsar yang meriwayatkan dari Ustman bin Affan RA oleh Ibnu Syaibah dalam Musannafnya, dengan demikian disunnahkan ini.

Dan sebaliknya orang yang meninggal sebelum matahari terbenam tidak ada kewajiban, karena dia telah meninggal sebelumnya, tetapi meninggal setelah matahari terbenam di hari terakhir di bulan Ramadhan maka ada kewajiban membayar zakat fitrah, karena dia mendapatkan waktu wajib zakat fitrah. Allahu ta’ala a’lam.

Pertanyaan :

Orang yang tidak berpuasa dan tidak shalat tetapi miskin apakah dia tetap berhak mendapatkan zakat fitrah?

Jawaban :

Dia tidak berhak mendapatkan zakat fitrah, bila tidak diharapkan masuknya kedalam islam kembali tapi dalam rangka menguatkan hatinya untuk berada dalam islam dengan diberikan zakat tersebut dia menjadi tertarik dan lebih semangat untuk beragama Allah, maka tidak mengapa dia anda berikan, selain anda berikan harta juga anda berikan nasehat kepadanya agar di bertaubat kepada Allah SWT dan menjalankan syariat Allah dengan sempurna.

Pertanyaan :

Mohon diulang kembali penjelasan berapa liter per orang  untuk zakat fitrah ? dan bolehkah kita melebihkan dalam rangka kehati-hatian ?

Jawaban :

Seperti yang kita katakan tadi dengan sha’nya Zaid bin Tsabit bahwa diukur maka sekitar 2,5 kg maka bila anda lebihkan menjadi 3 kg maka lebih baik, kalau diniatkan lebihnya adalah sedekan biasa.

Pertanyaan :

Assalamu alaikum ust.

  1. Saya mau nanya terkait dengan zakat, selama ini saya mengeluarkan zakat dengan menggunakan tahun Masehi, tapi Qadarullah baru paham bahwa pengeluaran zakat itu harus dengan tahun Hijriah, tapi saya lupa, sepertinya saya terkena wajib zakat beberapa tahun yang lalu. Nah bagaimana caranya ust untuk mengalihkan pada tahun Hijriah untuk mengeluarkan zakatnya. Saya biasa mengeluarkan zakat setiap bulan Januari. Setiap tahun  saya mengeluarkan zakat. Maka bagaimana saya menghitung kembali awal wajib zakat ?
  2. Ada orang yang menyalurkan zakat maal pada kami, kemudian kami tampung, kemudian baru kami keluarkan untuk para penuntut ilmu, tapi ini sesuai dengan keperluan mereka, misalkan ada 15 juta kemudian kami berikan pada penuntut ilmu dengan cara berangsur dalam satu tahun atau lebih- status saya adalah dadakan dititipkan orang-?
  3. Ada seorang miskin tapi ada kebiasaannya yang tidak bisa dihilangkan yaitu merokok dan berjudi apakah juga berhak menerima zakat fitrah?

Jawaban :

  1. Untuk yang telah dibayarkan dengan masehi perkirakan kembali dari tahun berapa beliau mulai membayar zakat, andai sekarang tahun 2012 beliau mulia membayar zakat dari tahun 2000 berarti sudah 12 kali beliau mengeluarkan zakat, maka untuk satu tahunnya dia tidak membayar 11 hari. Kalikan 11 dengan 12 tadi berapa hari jadinya bila sampai 1/3 tahun maka diperkirakan saja rata-rata dia membayar zakat dan dibagi 1/3 tersebut dan dikeluarkan lagi untuk fakir miskin. Artinya di hitung kembali karena itu adalah hak fakir miskin yang tidak terbayarkan karena kita tahu, maka apabila sampai 30 tahun dia menggunakan tahun masehi tersebut maka satu tahun dia tidak membayar hak fakir miskin, bila 10 tahun berarti ada 1/3 tahun, maka rata-rata berapa dia mengeluarkan zakat,bayarkan 1/3 dari rata-rata selama itu. Allahu Ta’ala A’lam. Untuk kedepannya majukan 11 hari dari  hari tahun Masehi, kalau dia tetap ingin menghitung dengan masehi juga maka naikkan persentasenya menjadi 2,575 % yang telah berlalu wajib dibayarkan karena ini hak yang berkaitan dengan hak orang fakir miskin dan asnaf yang lainnya.
  2. Untuk penuntut ilmu mereka masih masuk dalam fi sabilillah bila dalam kondisi mereka bukan fakir miskin, bila mereka fakir miskin sifat mereka dua sifat untuk mendapatkan zakat ini, karena fakir dan penuntut ilmu karena termasuk orang yang berjuang dijalan Allah ta’ala dengan hujjah dan dalilnya, maka apabila status penanya hanya sebagai wakil saja dan status wakil dia bertanggung jawab atas zakat tersebut, kalau hilang karena lalai maka dia harus mengganti, maka saya anjurkan berikan pada pihak yayasan tersebut atau kalau anak ini punya tabungan masukkan pada tabungan-tabungan mereka, karena status penanya sebagai wakil, kecuali penanya adalah lembaga resmi yayasan sosial yang diakui oleh negara dalam akta pendiriannya bahwa dibenarkan untuk mengumpulkan zakat dan menyalurkannya, maka karena dia adalah lembaga resmi maka boleh menyimpan untuk melihat maslahat  kepada anak-anak ini, dikwatirkan mereka menggunakan untuk sesuatu yang tidak berguna maka boleh diberikan dengan cara berangsur-angsur dan ada baiknya juga dengan kondisi seperti ini untuk bekerjasama dengan pihak pengurus pesantren atau dimana anak-anak itu belajar, tetapi kalau dilihat anak-anak ini di berbagai pesantren maka dia yang mendatangi anak-anak tersebut dan dia pegang tidak masalah, tapi status anda adalah sebagai wakil maka anda tidak boleh menyia-nyiakan hak perwakilan ini dan harus amanah dan di kwatirkan terjadi hal-hal diluar kemampuan anda, karena kelalain, maka anda harus mengganti hak fakir miskin tersebut.
  3. Kalau zakat fitrah yang dimaksud maka pendapat pertama mengatakan hanya untuk orang fakir dan miskin, bila orang ini masih fakir dan miskin maka dia berhak mendapat karena statusnya tersebut tetapi atas dasar kefasikannya selagi dia masih muslim, sholat, berpuasa, tetapi terkadang melakukan kefasikan, dia masih muslim maka tidak ada salahnya  anda berikan zakat juga anda nasehati dia, bila tidak, dia masih tetap dalam keadaan demikian, para ulama mengatakan tidak baik diberikan zakat pada mereka, kesimpulannya dalam hal ini lihatlah kemaslahatannya, bila dengan diberikan zakat dia akan berubah maka baik anda berikan, bila tidak, sebaiknya jangan karena zakat tersebut untuk menolong orang-orang beribadah kepada Allah, diantaranya adalah Amil, karena dalam rangka ibadah, begitu juga fisabilillah, maka sebagian ulama mengatakan zakat adalah untuk membantu orang untuk mentaati Allah SWT bukan untuk memaksiati Allah. Apabila diberikan zakat dan digunakan untuk judi dan untuk hal yang diharamkan seperti merokok berarti anda menolong dia untuk bermaksiat pada Allah.

Pertanyaan :

Orang yang tidak puasa, tidak sholat, tapi membayar zakat fitrah.  Apakah sah zakatnya?

Jawaban:

Bila sama sekali dia tidak sholat, kemudian tidak berpuasa.  Yang sholat sebagian para ulama mengatakan bahwa bisa menyebabkan dia keluar dari islam.  Maka non muslim atau yang murtad dari islam karena tidak sholat sama sekali, maka zakatnya tidak diterima sebagai zakat.  Maka nanti zakat tersebut hanya dianggap sebagai pemberian dari non muslim tapi tidak dianggap sebagai zakat.

Pertanyaan :

Kalau zakat fitrah haruskah dengan ijab qobul, atau cukup dengan niat dalam hati.  Bagaimana kalau kita langsung berikan pada yang berhak?

Jawaban :

Niat dalam ibadah zakat mal, zakat fitrah, jumhur para ulama mengatakan bahwa harus dengan berniat.  Berdasarkan sabda Nabi SAW bahwa bahwa amal tersebut dengan niat.  Maka jika tidak berniat, maka tidak sah.  Dan niat dalam hati, bukan dengan kata-kata “saya berikan zakat ini kepada anda “ Tidak.  Dan qobul diterima oleh penerima walaupun tidak dengan kata-kata, dan bahkan jual belipun tanpa kata-kata “saya jual, saya beli”, menurut mayoritas para ulama hukum jual beli tersebut sah, apalagi ini zakat atau sodaqoh.  Dan terkadang seseorang diambil dengan cara paksa zakat malnya, tentu dalam hatinya tidak ridho, tapi tetap sah.  Karena dengan cara dipaksa, Allah mengatakan “Ambillah dari harta-harta mereka zakat”.  Niat dalam hati iya, tapi apakah perlu dilafadzkan dalam ijab qobul, maka tidak wajib dilafadzkan. 

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya, apakah wajib atau haram seorang guru yang mengajarkan mengaji pada murid-murid dan meminta zakat kepada murid-muridnya tersebut dengan mengirimkan selebaran ?

Jawaban :

Bila guru ini adalah mustahiq zakat, fakir miskin, atau di daerah tersebut tidak ada yang mengajarkan Al Quran dengan Cuma-Cuma, dan dia menghabiskan waktunya untuk mengajar sehingga menyebabkan dia tidak punya waktu untuk berusaha menafkahi diri dan keluarganya, maka dia bagian dari mustahiq zakat.  Daan jika dia menghabiskan waktunya untuk mengajarkan Qur’an, maka dia bisa dianggap Fii Sabilillah, maka boleh meminta haknya dia sebagai fakir miskin untuk memenuhi kebutuhannya.  Namun jika tidak, maka dia tidak boleh melakukan hal ini.  Tetapi tentulah orang akan melihat dia telah merendahkan dirinya, sehingga Allah mengatakan : “Ada orang yang datang meminta-minta haknya atau fakir miskin yang meminta haknya, maka boleh diberikan harta dan zakat kepada mereka, dia menjaga dirinya, menjaga air muka nya dan tidak meminta-minta padahal dia juga yang berhak menerimanya, maka baiknya menjadi bagian yang kedua.  Tapi jika anda bisa menahan diri dari tidak meminta minta walaupun itu hak anda, maka itu jauh lebih baik.

 

Pertanyaan :

Bagaimana jika kita tidak membayar zakat fitrah, apakah sah puasa kita diterima oleh Allah, sementara kita tidak mengetahui sebelumnya.

Jawaban :

Bila memang tidak diajarkan di daerah itu, dan dia baru tahu kalau ada kewajiban membayar zakat fitrah, insyaallah tidak ada kewajiban bagi orang yang dengan kejahilan dia untuk tidak mengeluarkannya.  Tapi tidak masalah juga bila ia memiliki harta untuk mengeluarkannya.  Karena kata Rosululloh SAW“ bahwa zakat kita tersebut untuk membersihkan puasa seseorang dari Lagho dan Rafats”.  Dengan demikian, insyaallah puasanya diterima oleh Allah SWT karena dia hanya membersihkan saja dari laghoh dan rafats dan tidak ada hubungannya dengan diterima tidaknya puasanya.  Tapi ini kewajiban tersendiri yang berkaitan, tapi tidak berkaitan jadi sah atau tidak sah puasanya.  Dengan demikian, bertaubatlah kepada Allah SWT, bila diberikan rizki oleh Allah SWT keluarkanlah sedekah biasa.

 

Kesimpulan :

Di akhir pertemuan ini, marilah kita kaum muslimin, kaum muslimat yang dimulaikan oleh Allah SWT, untuk melihat kembali harta-harta kita untuk dikeluarkan hak-hak orang lain disana dalam bentuk zakat mal.  Hitung dengan cara yang benar.  Bila tidak tahu caranya, bertanyalah pada ahli ilmu cara menghitungnya.  Kemudian selain menghitung, keluarkanlah dengan berniat, kemudian berikanlah pada orang-orang yang jelas mustahiqnya, yang jelas tidak ada perbedaan para ulama.  Bila ada perbedaan antara ulama tentang orang ini, atau yayasan ini, atau lembaga ini, untuk masjid ini, atau keperluan ini, maka sebaiknya hindari supaya anda menjalankan ibadah anda merasa yakin akan ditrima oleh Allah SWT.  Dan jangan lupa mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ ketika sudah masuk waktu wajibnya, dan sudah boleh dua hari sebelum malam idul fitri dan berakhir dengan waktu sholat idul fitri agar puasa kita bersih dari Laghoh dan rafats, dan berbahagia dengan kain muslimin di hari mulia tersebut, yaitu idul fitri.

Uncategorized


zakat 3

Posted on August 2, 2013 By

“Mata uang sekarang, uang kartal ( uang kertas ) bukan lagi emas dan perak, para ulama internasional dari berbagai negara telah melakukan Mu’tamar Internasional di selenggarakan oleh OKI  dan mereka memutuskan bahwa uang kartal yang ada sekarang baik Rupiah, Ringgit, Dolar, Riyal, dll disamakan dengan emas dan perak yang dimasa Rasulullah, sebagai nilai harga dan alat tukar, oleh karena itu sebagaimana dalam emas dan perak ada zakatnya maka uang kartal ada zakatnya (more…)

Uncategorized


zakat 2

Posted on July 30, 2013 By

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam saja ketika beliau selasai shalat terburu-buru ke rumahnya, sehingga para sahabat bertanya-tanya, lalu Rasulullah mengatakan di rumahku ada satu keping emas dan itu adalah bagian dari uang emas zakat yang belum disalurkan dan saya tidak ingin uang tersebut bermalam dirumah saya, kawatir nanti akan menghalangi saya nanti di akhirat(HR. Bukhari) (more…)

zakat


zakat

Posted on July 29, 2013 By

Abu Bakar radhiyallahu anhu ketika dimasa pemerintahannya, sebagian kabilah enggan untuk mengeluarkan zakat yang dimasa Rasullah Salallahu Alaihi Wasallam mereka keluarkan, maka Abu Bakar sebelum memerangi orang-orang kafir beliau perangi dulu orang-orang ini, dan ternyata dengan izin Allah, ini adalah strategi yang sangat mengagumkan.  Karena orang-orang menganggap dalam kondisi begitu, mereka mampu membersihkan dari dalam. Maka darahpun di tumpahkan bukan sekedar basa basi, ini semua untuk siapa? Yaitu untuk orang-orang fakir miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta. Ini juga menunjukkan pentingnya zakat karena berkaitan dengan hak kaum fakir miskin. Yang penting diingat bahwa mereka tidak diperangi karena kafir, mereka masih muslim akan tetapi muslim yang fasik.

Kemudian ingatlah bahwa ketika kita berzakat, zakat tersebut tidak mengurangi harta kita.  Walaupun hakekatnya kekayaan kita berkurang 2,5  % dalam zakat perniagaan, emas dan perak, namun sebetulnya 2,5% yang kita keluarkan akan Allah lipat gandakan.  Satu kebaikan akan Allah lipat gandakan menjadi sepuluh kebaikan, kemudian Allah lipat gandakan kembali hingga mencapai 700 kali lipat.  Dan bagi orang-orang yang Allah kehendaki akan dilipat gandakan lebih dari 700 kali lipat tersebut. Allah berfirman :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menumbuh kembangkan sedekah”. (QS. Al Baqarah: 276). (more…)

zakat


Tambahan sub pembahasan cetakan ke-3 buku Harta Haram Muamalat Kontemporer

Posted on January 5, 2013 By

Supply Kontrak (Pre Order)

Termasuk juga transaksi yang menggunakan jasa telekomunikasi yaitu supply kontrak. Supply kontrak adalah : transaksi yang dilakukan salah satu pihak yang siap menyerahkan barang kepada pihak lain pada waktu tertentu, dimana objek barang terkadang masih berada di luar negri[1].

Misalnya: Jasa perdagangan A mengetahui produsen barang yang berada di luar negri melalui salah satu jaringan telekomunikasi. Lalu A menawarkan penjualan barang tersebut kepada pedagang B di Indonesia. Setelah B menyetujuinya, ia melakukan transaksi beli kepada A. dan setelah transaksi jual dilakukan A kepada B, maka A membeli barang dari produsen di luar negri. Dan setelah barang yang dipesan tiba di Indonesia A menyerahkannya kepada B.

Hukum Supply Kontrak

Hukum transaksi ini berbeda berdasarkan status barang:

–          Barang yang menjadi objek transaksi belum tersedia dan butuh proses pembuatan.

Transaksi ini dinamakan istishna’  hukumnya boleh, baik pembayaran dilakukan di depan, pada saat barang diterima atau dengan cara angsuran berkala. Berdasarkan dalil berikut:

.. dowload lebih lengkap ke link ini

Uncategorized


FIKIH PUASA KONTEMPORER

Posted on August 16, 2012 By

 

Artikel-artikel sebelumnya merupakan ringkasan Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Fikih Puasa Kontemporer) Dr Muhammad Al Madhaghi. Beliau saat ini bekerja sebagai Konsultan Senior Syariah di Bank Rajhi, Arab Saudi. Beliau merupakan Doktor Fikih dari Universitas Islam Muhammad bin Saud, Riyadh, disertasi beliau mengenai Fikih Kontemporer mengenai Kehamilan & Kelahiran.

Fikih Puasa Kontemporer merupakan makalah yang beliau sampaikan selama Ramadhan di Radio Al Qur’an di Qatar. Alhamdulillah Dr Erwandi Tarmizi yang merupakan teman dan tetangga beliau di Riyadh mendapatkan kopi makalah  tersebut dan diizinkan untuk dipublikasikan.

Seluruh artikel ini telah diterjemahkan oleh ustadz Erfan Doni, Lc, kemudian oleh editor diseleksi mengenai permasalah yang banyak terjadi di Indonesia.

Melalui publikasi ini diharapkan kaum muslimin Indonesia mengetahui bagaimana para ulama berijtihad mengeluarkan hukum-hukum yang bersifat kontemporer-jazaahumullah khair jazaa-. Dengan demikian kita, sesama muslim bisa saling memahami dan menghormati jika ternyata ada terdapat perbedaan pandangan dengan yang selama ini kita yakini, dan apalah ilmu kita dibandingkan kumpulan berbagai pakar yang tergabung dalam OKI.

Dengan membaca artikel-artikel yang telah berlalu semoga kita sebagai muslim bertambah yakin bahwa islam adalah “way of life”, karena hanya dien inilah yang masih berkembang sesuai dengan zaman dan fitrah manusia, bandingkan dengan agama yang lain. Dan yang lebih penting lagi, apakah kita sudah menjadi muslim yang sesuai dengan yang diinginkan oleh Rabb kita?…

Berikut ini kami hadirkan kesimpulan lengkap keputusan Majma’ Al fiqih Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan ke X no.93  mengenai hal-hal yang tidak membatalkan puasa, antara lain:

  1. Tetes  mata, tetes telinga, cuci telinga, tetes hidung, semprot hidung, apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak masuk ke tenggorokan.
  2. Memakai obat yang diletakkan di bawah lidah untuk pengobatan dan lainnya apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak masuk ke kerongkongan.
  3. Sesuatu yang dimasukkan ke vagina seperti supositoria, pencuci vagina atau endoskopi vagina atau jari untuk pemeriksaan kedokteran.
  4. Memasukkan kamera atau spiral dan sejenisnya ke rahim.
  5. Sesuatu yang dimasukkan ke uretra yaitu jalan kencing bagian luar pada laki-laki dan perempuan berupa kateter atau kamera atau bahan pewarna untuk penyinaran, obat atau larutan untuk mencuci kandung kemih.
  6. Membor, mencabut, atau membersihkan gigi, bersiwak, dan menggunakan sikat gigi, apabila berhati-hati dan tidak tertelan ke kerongkongan.
  7. Berkumur-kumur, semprot obat di mulut apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak tertelan ke kerongkongan.
  8. Suntik obat di kulit, otot, atau pembuluh darah yang cairannya tidak mengandung  nutrisi.
  9. Gas oksigen.
  10. Gas bius selama pasien tidak diberikan cairan nutrisi.
  11. Sesuatu yang masuk ke tubuh melalui penyerapan dari kulit seperti minyak, salep, obat tempel kulit yang mengandung bahan obat kimia.
  12. Memasukkan kateter pada arteri untuk menampilkan gambar, pengobatan pembuluh darah jantung, atau yang lainnya di anggota tubuh.
  13. Memasukkan kamera melalui dinding perut untuk pemeriksaan bagian dalam perut atau melakukan operasi.
  14. Mengambil sebagian dari hati atau lainya dari anggota selama tidak menggunakan pemberian infus.
  15. Endoskopi lambung apabila tidak disertai memasukkan cairan (infus) atau bahan lainnya.
  16. Memasukkan alat atau bahan obat ke otak, atau sumsum tulang belakang.
  17. Muntah yang tidak disengaja, bukan dengan sengaja.

By Editor

Puasa


Hukum Menggunakan Oksigen ketika Berpuasa

Posted on August 16, 2012 By

 

Jumlah manusia yang membutuhkan oksigen tambahan setiap harinya selalu bertambah, seperti : pasien paru-paru, bronchitis kronis, kanker paru-paru, pasien gagal jantung.

Ada tiga jenis oksigen tambahan yang digunakan untuk pengobatan, antara lain oksigen  tabung, oksigen cair yang apabila disemprotkan kembali ke wujud aslinya yang berupa gas, dan  oksigen dari udara langsung.

Tidak ada permasalahan tentang batalnya puasa  menggunakan oksigen dari tabung dan udara bebas, karena keduanya berupa gas. Hanya saja sebagian ulama mempermasalahkan hukum menggunakan oksigen cair.  Tetapi sesungguhnya oksigen cair apabila dilepaskan dari tempatnya, akan kembali ke bentuk aslinya yaitu berupa gas.

Maka penggunaan oksigen cair tidak membatalkan puasa karena ia murni gas yang masuk ke saluran pernafasan, dan lambung tidak menyerap cairannya sedikitpun. Tidak seorangpun mengatakan bernafas atau menghirup udara, dapat membatalkan  puasa.

Maj’ma Al Fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapat tahunan ke X no.93 memutuskan dalam menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : ( 9. Gas oksigen ).

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Apakah Endoskopi membatalkan Puasa ?

Posted on August 15, 2012 By

ِ

Endoskopi diperlukan dokter untuk melihat keadaan di dalam lambung; diagnosis luka, peradangan atau lainnya, diagnosis kerongkongan atau usus dua belas jari.

Endoskopi bukanlah operasi, tetapi pasien diberikan obat penenang pada pembuluh vena. Kemudian dokter menyemprotkan bius lokal di kerongkongan pasien untuk mencegah muntah maupun batuk ketika alat dimasukkan.   Pasien berbaring miring ke kiri, kemudian dokter memasukkan alat melalui mulutnya terus ke kerongkongan, lambung dan usus dua belas jari, dokter mengarahkan alat tersebut dengan mendorong atau menariknya.

Ulama-ulama dahulu telah membahas masalah ini dalam masalah (sesuatu yang masuk ke kerongkongan yang bukan makanan, seperti batu kerikil atau potongan besi maupun yang lainnya, ini seperti endoskopi; apakah membatalkan puasa?)

Terjadi dua pendapat :

1. Pendapatan pertama mengatakan batal.

Jumhur ulama mengatakan hal tersebut membatalkan puasa karena setiap yang sampai ke kerongkongan maka membatalkan puasa dan tidak mensyaratkan menetapnya benda tersebut di dalam. Sdangkan mazhab Hanafi mensyaratkan bahwa benda tersebut harus menetap di dalam.

Jumhur berdalil bahwa  Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menghindari bercelak saat berpuasa. Oleh karena itu endoskopi membatalkan puasa dengan.

2. Pendapat kedua mengatakan  tidak batal puasa.

Syeikh Islam Ibnu Taimiyah dan sebagian Malikiyah mengatakan bahwa memasukkan apapun ke dalam kerongkongan asalkan bukan makanan dan minuman, seperti memasukkan besi atau batu kerikil tidak membatalkan puasa. Selain itu, mereka mengatakan sesungguhnya hadis perintah untuk menghindari bercelak bagi orang berpuasa adalah lemah.

Allahu ‘alam, pendapat yang kuat adalah endoskopi tidak membatalkan puasa, karena endoskopi bersifat sementara.  Hanya untuk merekam kemudian dikeluarkan, dan bukan makan dan minum maupun yang menyerupai keduanya.

Sesuatu yang pasti tidak bisa di hapus dengan yang masih ragu.  Sahnya puasa sesuatu yang pasti,  sedangkan batalnya puasa dengan endoskopi masih diragukan, maka kita tetapkan yang asal, yaitu sahnya puasa.

Akan tetapi jika ujung kamera dilumasi minyak atau pelumas untuk memudahkan mengarahkan alat, atau dokter menyemprotkan pewarna khusus, maka dapat membatalkan puasa.  Karena masuknya bahan tersebut menetap di dalam dan tidak keluar ketika alat dikeluarkan.  Minyak tersebut berbentuk cair, sehingga dapat masuk ke lambung.  Demikian juga jika endoskopi sarana untuk memasukkan obat ke dalam lambung.

Telah ditetapkan dalam keputusan Majma’ Al fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) pada rapat tahunan yang ke X no.93 dalam menyebutkan hal-hal yang dianggap tidak membatalkan puasa : ( endoskopi apabila tidak memakai cairan ataupun lainnya ).

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Hukum Menghirup Minyak Wangi Saat Berpuasa

Posted on August 15, 2012 By

 

Menghirup minyak wangi tidak membatalkan puasa, karena ia dibutuhkan oleh banyak orang. Seandainya membatalkan puasa, pastilah Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskannya, sebagaimana beliau menjelaskan hukum yang dibutuhkan masyarakat secara umum lainnya.  Tidak ada satu hadispun yang disandarkan pada beliau dalam masalah ini, menunjukkan bolehnya menghirup minyak wangi bagi orang puasa.

Asal hukum segala sesuatu adalah boleh. Sebagaimana mencium bau tidak bisa di hindari setiap orang, dan juga tidak masuk ke kerongkongan.  Mencium parfum tidak menghilangkan hakikat puasa, karena bukan makan dan minum, menghirupnya bukan berarti memasukkan makanan atau minuman, tetapi ia seperti bernafas, telah dimaklumi bahwa bernafas bukanlah hal yang membatalkan puasa.

Tetapi ulama mazhab Maliki dan Syafi’i memakruhkan memakai minyak wangi bagi orang berpuasa. Dikarenakan menghindari memakai minyak wangi dapat mencegah anggota badan untuk tidak melakukan hal yang diinginkan yang dapat melemahkan jiwa terhadap nafsu dan menguatkan jiwa untuk melakukan ketaatan.

Namun menurut mazhab Hanafi dan Hanbali, dan merupakan pendapat yang lebih kuat adalah menggunakan minyak wangi saat berpuasa tidak makruh. Karena sesungguhnya lemahnya jiwa terhadap nafsu, serta kuat untuk melakukan ketaatan, adalah dengan menghindari apa-apa yang membatalkan puasa -yang nampak maupun yang tidak tampak- yang telah diterangkan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist-hadistnya.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fis Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa