Hukum Penggunaan Obat Tetes hidung saat Berpuasa

Posted on August 11, 2012 By

 

Para ulama sepakat bahwa orang berpuasa apabila memasukkan cairan obat, atau yang semisalnya selama tidak melampai hidung, tidak membatalkan puasa dan tidak wajib mengganti puasanya. Ini dianalogikan dengan menghirup air ketika berwudu’ saat puasa.

Tetapi ulama berselisih pendapat, apabila obat yang dimasukkan hingga melampai hidung, sehingga masuk ke tenggorokan bahkan ke kerongkongan. Apakah hal itu membatalkan puasa, sehingga wajib mengganti puasanya atau tidak?.

Pendapat pertama : membatalkan puasa.

Berdalil dengan hadist Laqith bin Shabrah bahwa ia berkata, Ya Rasulullah beritahukan padaku tentang wudhu’!”. Beliau bersabda “ Berlebih-lebihanlah ketika berwudhu’. Dan berlebih-lebihanlah menghirup air, kecuali engkau sedang berpuasa”.

Mereka mengatakan, bahwa ini menunjukkan bahwa hidung akses menuju lambung. Oleh karena itu menggunakan obat tetes hidung dilarang oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi –Salallahu alaihi wasallam- melarang berlebih-lebihan menghirup air, termasuk larangan untuk memasukkan sesuatu melalui hidung, walaupun sedikit, karena air yang masuk ke tenggorokan melalui hidung sangat sedikit ketika berlebih-lebihan menghirup air.

Syeikh Ibnu Utsaimin- Rahimahullah- berkata : “ Adapun obat tetes hidung apabila sampai ke lambung maka membatalkan puasa, adapun apabila tidak sampai ke lambung maka tidak membatalkan puasa”.

Pendapat kedua : tidak membatalkan puasa.

Mereka berpendapat bahwa tetes hidung bukan makan dan minum dan tidak semakna dengan keduanya. Pada dasarnya puasa adalah sah, batalnya puasa dengan tetes hidung masih diragukan. Dan sesuatu yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan yang ragu. Juga satu tetes adalah jumlah yang sangat sedikit, apabila melewati hidung, tidak akan masuk ke lambung, kecuali hanya sangat sedikit, sehingga di maafkan, sama seperti air yang tersisa di mulut ketika berkumur-kumur.

Majma’ Al fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapatnya yang ke X no.93  menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : ( tetes hidung, inhaler hidung, apabila berhati-hati agar tidak tertelan ).

Kedua pendapat ini  sama kuatnya, tetes hidung dianggap tidak membatalkan puasa karena sangat sedikit yang masuk ke lambung. Akan tetapi, tetes hidung apabila dipastikan masuk ke tenggorokan maka menggunakannya membatalkan puasa, karena sengaja memasukkan sesuatu ke saluran pencernaan. Adapun apabila masih diragukan masuknya ke tenggorokan maka tidak membatalkan puasa, sekalipun dirasakan di kerongkongan, Sebagaimana perkataan ulama mazhab Hanbali tentang orang yang berlebih-lebihan menghirup air ketika berwudhu’ maka masuk ke kerongkongannya tanpa sengaja.

Yang lebih afdhol bagi orang berpuasa menghindari segala yang dapat merusak puasanya, dan menjaga puasanya.  Apabila terpaksa menggunakan obat tetes hidung karena sakit yang parah, atau menjadi lambat sembuhnya, atau jika tidak diobati akan bertambah parah, maka tidak mengapa menggunakannya akan tetapi jika masuk sesuatu ke tenggorokan maka sebaiknya mengganti puasa untuk kehati-hatian dalam ibadah, dan untuk keluar dari perselisihan ulama, tetapi mengganti puasa ini tidak wajib. Allahu a’lam.

Kita memohon pada Allah untuk agar diberikan pemahaman masalah agama dan  diberi taufik untuk beramal shalih.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Hukum Penggunaan Minyak Oles, Salep dan Obat Tempel saat Berpuasa

Posted on August 10, 2012 By

 

Di dalam kulit terdapat pembuluh-pembuluh darah yang akan  menyerap sesuatu yang diletakkan di atas kuli, melalui pembuluh kapiler, penyerapan ini berjalan sangat lambat.

Sebagian obat dapat sampai keseluruh tubuh melalui obat yang ditempelkan diatas kulit. Melalui penempelan obat tersebut, kemudian masuk ke dalam kulit secara pelan-pelan dan terus menerus dalam beberapa jam, hari, bahkan lebih.  Hal tersebut bertujuan agar jumlah obat tersebut senantiasa tetap di dalam darah.

Obat yang ditempel sangat bermanfaat untuk memasukkan obat yang  diserap tubuh dengan cepat.  Karena obat jenis ini apabila digunakan dengan cara lain, haruslah digunakan terus menerus.   Oleh karena itu, obat-obat yang mungkin pemberiannya melalui penempelan, hanya obat yang berdosis kecil setiap harinya, seperti nitrogliserin patch untuk penderita angina, nikotin yang di tempelkan untuk membantu berhenti dari merokok, dll.

Para ulama dahulu telah sepakat sesungguhnya sesuatu yang diletakkan di atas kulit seperti krim, balsem, inai atau yang lainya di siang bulan Ramadhan tidak membatalkan puasa, berdasarkan alasan-alasan berikut ini :

1. Sesungguhnya boleh bagi orang yang berpuasa mandi, padahal tubuhnya bersentuhan dengan air, melembabkannya serta masuk ke pori-pori kulit. Oleh karena itu boleh juga menggunakan yang semisalnya seperti minyak dan lain-lain.

2. Mengoleskan minyak di badan merupakan kebutuhan kebanyakan orang, seandainya membatalkan puasa tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Terlebih lagi badan dapat menyerap minyak, maka tatkala Beliau tidak menjelaskan, menunjukkan bahwa itu adalah boleh.

3.  Sesungguhnya  krim, balsem, yang dioleskan di atas kulit untuk pengobatan   tidak dapat masuk ke lambung.

Dari alasan-alasan di atas maka minyak oles, balsem, obat yang ditempel pada permukaan kulit tidak membatalkan puasa. Majma’ Al Fiqhi Al Islami ( divisi OKI ) memutuskan dalam rapat tahunan ke X no. 93 dalam menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa: ( 11. Sesuatu yang masuk ke tubuh yang dihisap oleh kulit seperti minyak oles, salep, obat-obat yang ditempel di kulit).

Hukum tersebut juga berlaku untuk krim, pelembab kulit, perawatan wajah modern, pemutih wajah, lipstick, blush on, maka ini semua tidak membatalkan puasa.  Akan tetapi bagi wanita yang sedang berpuasa, hendaknya menjaga lipstick tidak masuk ke tenggorokan melalui mulut ketika berbicara.  Dan ketika melembabkan bibir dengan lidah, karena lipstick apabila bercampur dengan air ludah dan sengaja menelannya ke tenggorokan dapat membatalkan puasa.

Bedak untuk mewangikan badan juga tidak membatalkan puasa dengan syarat yang menggunakannya berhati-hati agar tidak tertelan ke kerongkongan. Apabila masuk ke kerongkongan dengan sengaja maka puasanya batal, jika tidak sengaja maka tidak batal.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Apakah Infus Membatalkan Puasa ?

Posted on August 10, 2012 By

 

Pada tulisan yang lalu, dijelaskan terdapat 3 jenis suntikan yang tidak membatalkan puasa. Kali ini kita akan membahas mengenai jenis suntik yang di suntikan ke pembuluh darah yang berisi cairan nutrisi.

Suntikan nutrisi yang lebih dikenal dengan infus merupakan larutan steril yang mengandung bahan nutrisi yang dibutuhkan agar pasien tetap hidup, dengan menyuntikkannya melalui selang yang disambung dengan jarum, kemudian disuntikkan di pembuluh darah pada pasien.

Untuk lebih mengetahui pentingnya air bagi tubuh, perlu diketahui sesungguhnya tubuh terdiri 70%  cairan dari total berat badan. Tubuh akan kehilangan air dan garam ketika muntah, diare, sering buang air kecil, saat cuaca yang sangat panas seperti yang terjadi ketika haji, atau saat demam. Ketika dehidrasi atau sebelum operasi -baik menggunakan bius total maupun lokal- pasien dilarang makan beberapa saat namun ia membutuhkan garam, maka kebutuhan ini diberikan secara infus.

Infus mengandung cairan steril dengan sedikit natrium klorida (garam), dekstrosa (gula) yang disimpan dalam paket kaca atau kantong plastik yang dapat digantung di tempat tidur pasien. Larutan gula dan garam dapat mencukupi cairan dan kalori yang dibutuhkan orang sakit untuk jangka waktu yang pendek. Setiap 50mg gula setara dengan 200kalori.

Suntikan nutrisi membatalkan puasa sekalipun ia tidak masuk melalui kerongkongan namun ia berfungsi seperti makanan dan minuman. Hal ini sangat jelas karena suntikan nutrisi diberikan pada pasien yang tidak mampu untuk memakan makanan,  atau yang tidak diizinkan untuk memakan makanan karena sakitnya, atau karena membahayakan penyakitnya, agar dapat bertahan hidup melalui penyuntikan nutrisi untuk waktu yang lama walaupun hanya sedikit yang dimasukkan.

Apabila para ulama fiqih menghukumi batalnya puasa dengan memakan batu atau kerikil padahal ia bukanlah nutrisi dan tidak bermanfaat bagi tubuh, maka hukum dengan batalnya puasa disebabkan infus ini lebih utama, karana peranannya yang sangat jelas sekalipun berbuka dengan suntikan ini tidak sama secara sepenuhnya dengan memakan melalui mulut yang bisa merasakan lezat dan kenyang dan terisinya lambung akan tetapi ia hampir mencukupinya sehingga tidak butuh makan.

Menyuntikkan nutrisi berbeda dengan menyuntikkan obat pada tubuh, karena menyuntikkan obat sekalipun tubuh mengambil manfaat darinya namun  sangat sedikit untuk nutrisi. Tidak mungkin dikatakan bahwa orang yang sakit dapat hidup dengan suntikan tersebut tanpa makan. Adapun suntikan nutrisi dia menghilangkan hikmah dari puasa, karena ia memberikan nutrisi pada tubuh dan melapangkan aliran darah dalam pembuluh darah. Dan diketahui bahwa disyariatkannya puasa untuk menyempitkan aliran darah yang merupakan tempat jalannya syetan.

Telah disahkan dalam keputusan Majma’ Al Fiqh Al Islami (divisi OKI) dalam rapat ke-sepuluh no.93 menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : (8. Menyuntikkan obat di kulit atau otot atau pembuluh darah, yang bukan cairan nutrisi.)

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Beberapa Jenis Suntik yang Tidak Membatalkan Puasa

Posted on August 9, 2012 By

 

Ada beberapa jenis suntikan yang dikenal saat ini:

  1. Suntikan di kulit, contohnya suntik insulin untuk penderita diabete.
  2. Suntikan di otot, contohnya suntik vaksin, bius, penurun panas, suntikan alergi yang berfungsi untuk menambah daya tahan tubuh pasien terhadap bibit alergi.
  3. Suntikan di pembuluh darah, merupakan suntik yang paling banyak dilakukan. Pembuluh darah merupakan jalur yang paling baik untuk memasukkan dosis yang ditentukan, seperti nutrisi atau obat-obatan, dan merupakan cara yang efektif dan cepat untuk menyebarkannya ke seluruh tubuh.

Suntikan di pembuluh darah ada dua jenis :

1. Suntikan nutrisi, ini akan kita bahas pada tulisan bagian kedua, insyallah.

2. Suntikan obat yang bukan sebagai nutrisi, contoh suntikan di pembuluh darah yang sebagai obat, pewarna khusus yang disuntikkan pada pasien yang ingin melakukan sinar-x dan MRI.

Adapun tentang pengaruh ketiga jenis suntikan di atas terhadap puasa maka sesungguhnya suntikan tersebut bukanlah nutrisi, maka tidak membatalkan puasa,  karena itu bukanlah makanan dan minuman juga tidak yang semakna dengan keduanya dan juga tidak masuk melalui saluran makanan. Pada dasarnya sah puasa hingga dipastikan ada yang membatalkannya sesuai dalil syar’i.

Penyuntikan obat walaupun kadang dicampur dengan larutan garam dalam jumlah yang cukup besar ia tidak membatalkan puasa, karena tidak masuk ke tubuh melalui kerongkongan dan tidak sebagai makanan dan minuman.  Dan larutan garam saja tidak cukup untuk memberikan kehidupan bagi pasien dalam waktu yang lama.  Pada dasarnya sah puasa hingga ada dalil yang menjelaskan batalnya.

Adapun menyuntikkan glukogen juga tidak membatalkan puasa. Sesungguhnya untuk meningkatkan jumlah glukosa di darah bukanlah dengan masukkan ke tubuh makanan yang berubah menjadi gula, tetapi dengan  merangsang tubuh untuk melakukan proses menghasilkan gula akibat pengaruh suntik glukogen tersebut.

Telah di sahkan dalam pada keputusan Majma’ Al Fiqih Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan yang ke-sepuluh no.93 yang menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa: (8. Menyuntikkan obat di kulit atau otot atau pembuluh darah, yang bukan cairan dan nutrisi.)

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Apakah Cuci Darah Membatalkan Puasa ?

Posted on August 6, 2012 By

 

Penyakit ginjal, diantaranya gagal ginjal dianggap penyakit yang paling banyak menyebar dijaman sekarang. Gagal ginjal yaitu suatu keadaan dimana ginjal tidak mampu melakukan tugas-tugas pentingnya secara alami, faktor utama gagal ginjal ini adalah tekanan darah tinggi dan penyakit diabetes.

Pasien gagal ginjal membutuhkan –setelah mengalami ginjal gagal melakukan tugasnya- pada sarana yang lain untuk membersihkan tubuh dari kotoran-kotoran, racun atau cairan ditubuhnya. Hal yang pertama kali disarankan untuk pasien gagal ginjal adalah melakukan cangkok ginjal, demikian itu karena pasien yang telah melakukan cangkok ginjal dapat menjalani hidupnya secara alami sehingga tidak membutuhkan cuci darah, dengan pengecualian harus meminum pil-pil obat untuk meringankan kekebalan padanya sehingga tubuh tidak menolak ginjal tersebut sebagaimana manusia dalam keadaan normal lainnya.

Apabila hal di atas tidak berlangsung sempurna maka ia harus melakukan pemurnian ginjal, yaitu suatu proses menghilangkan air, racun dan garam yang berlebih ditubuh, juga bahan-bahan asing yang lainnya seperti obat. Pemurniaan ginjal ada dua cara, cara pertama: cuci darah yang dikenal juga dengan cuci darah atau cuci ginjal.

Pemurniaan dengan cara ini mengharuskan menarik darah pasien melalui jarum yang diletakkan pada salah satu pembuluh darah kemudian darah itu dialirkan ke penyaring pembersih yang juga dilalui padanya larutan pemurni; maka penyaring itu untuk membersihkan darah dari racun, garam yang berlebih, kemudian dikembalikan lagi ke tubuh.

Adapun pengaruh cuci darah terhadap sahnya puasa dapat dilihat dari dua sisi:

1. Keluar darah ketika melakukan cuci darah.

Sisi ini menyerupai bekam dimana tubuh mengeluarkan darah yang amat banyak yang mengakibatkan lemah. Rasa lemah, lelah dan pegal-pegal otot yang disebabkan berkurangnya jumlah darah pada cuci darah ini lebih besar bekam. Maka ulama yang mengatakan bahwa berbekam membatalkan puasa akan berpendapat bahwa cuci darah lebih dapat membatalkan puasa, kecuali apabila ia membedakan di antara keduanya bahwa darah pada cuci darah dikembalikan ke tubuh pasien setelah dicuci, dan ini tidak dilakukan pada bekam.

2. Kembalinya darah ke pasien setelah pencucian.

Sisi inilah yang menyebabkan terjadinya perselisihan para ulama seperti saat membahas hukum transfusi darah orang yang berpuasa.  Penyebab utamanya adalah jumlah bahan gula di cairan pembersih darah lebih kurang sampai 12mg/l. Bahan ini akan mengalir di darah setelah pencuciannya kemudian masuk ke tubuh pasien, dimana jumlah tersebut dianggap sebagai nutrisi maka ia dihukumi seperti makan dan minum. Oleh karena itu kita simpulkan bahwa cuci darah menyebabkan batal puasa.

Jika pencucian darah berlangsung 3x/minggu maka pasien tidak berpuasa di hari-hari tersebut. Namun jika di hari lainnya ia mampu berpuasa, ia tetap harus berpuasa. Dan hari-hari Ramadhan yang ia tidak puasa di dalamnya (kurang lebih 12 hari) tetap harus ia qadha di luar Ramadhan, yang di hari itu ia tidak melakukan cuci darah. Allahu’alam.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Hukum Transfusi Darah saat Berpuasa

Posted on August 3, 2012 By

Ulama kontemporer berselisih pendapat tentang hukum puasa dua orang yang melakukan trasnfusi darah. Maka mayoritas ulama mengatakan bahwa transfusi darah membatalkan puasa orang yang mendapat transfer darah, ini adalah perkataan Syeikh Abdul Aziz Ibnu Baaz –Rahimahullah dan Syeikh Muhammad Ibnu Saleh Al Utsaimin -Rahimahumullah pada perkataan yang pertama dan ia rujuk darinya.

Dalam kitab Majalis Syahrur Ramadhan majelis ke-14, Syeikh Muhammad Ibnu Saleh Al Utsaimin berkata “Memberikan darah kepada orang yang puasa, seperti orang yang terkena pendarahan maka disuntikkan padanya darah maka puasanya batal karena sesungguhnya darah tujuan nutrisi dari makanan dan minuman, dan itu didapati dengan menyuntikkan darah padanya”. Namun kemudian ia berkata di catatan kaki di bukunya ”Ini adalah pendapatku dahulu kemudian jelaslah bagiku sesungguhnya menyuntikkan darah tidak membatalkan puasa karna ia tidak makan dan minum dan tidak pula semakna denganya, pada dasarnya sah puasa sehingga jelas batalnya dan diantara faedah-faedah (sesuatu yang yakin tidak dapat dihilangkan dengan ragu)”.

Pendapat yang Syeikh Ibnu Utsaimin rujuk darinya yaitu tidak batalnya puasa dengan transfusi darah adalah kesepakatan peserta seminar fiqih kedokteran yang ke-9 (divisi fiqih OKI di bidang kedokteran) di Kuwait tahun 1997. Mereka memutuskan tidak batal puasa disebabkan transfusi darah karena hukum asal ibadah seseorang muslim sah hingga ada dalil yang kuat yang menyatakannya batal.

Sesungguhnya jika hanya darah saja yang disuntikkan kepada orang sakit ia tetap tidak dapat hidup tanpa makan dan minum. Sedangkan jika disuntikkan nutrisi maka ia dapat hidup untuk masa yang lama tanpa makan dan minum. Oleh karena itu tidak dapat kita katakan bahwa darah yang disuntikkan sama seperti makan dan minum.

Transfusi darah bukan disebabkan oleh kebutuhan tubuh akan nutrisi atau air, karena kebutuhan tersebut dapat digantikan dengan menyuntikkan nutrisi secara langsung. Transfusi darah dibutuhkan untuk menggantikan sesuatu yang penting yang kurang pada tubuh seperti sel darah merah yang berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke sel-sel, atau trombosit yang dibutuhkan saat pendarahan, atau plasma yang penting untuk menjaga tekanan darah dan sebagai anti bodi.

Pada keadaan di atas tidak mesti dilakukan transfusi darah dengan seluruh kandungan darah, cukup dilakukan transfusi pada komponen yang dibutuhkan saja, oleh karena itu terkadang transfusi dilakukan hanya dengan sel darah merah saja atau trombosit saja.

Air walaupun bagian pembentuk yang paling besar di darah (sekitar 95% di plasma, di dalam darah sekitar 55%) sesungguhya peranannya sebagai perantara untuk membawa seluruh kandungan darah dan bukan sebagai nutrisi untuk sel-sel tubuh.

Darah sekalipun ia merupakan tonggak kehidupan akan tetapi ia bukan makanan dan minuman, nutrisi dan air tidak berubah menjadi darah di dalam lambung atau hati seperti keyakinan orang-orang dahulu tetapi ia terbentuk pada tempatnya yaitu sumsum tulang belakang. Ia tidak dapat memberikan nutrisi pada tubuh tapi tugasnya hanya membawa serta mensuplai oksigen dan air dan bahan-bahan nutrisi yang diserap usus halus ke seluruh jaringan tubuh, penyerapan nutrisi terjadi di usus halus sedangkan darah hanya sebagai kurir pembawa, fungsi darah ketika disuntikkan pada tubuh sama seperti fungsi menyuntikkan obat pada otot dan lainnya.

Maka pendapat yang mendekati kebenaran, wallahu’alam, bahwa transfusi darah tidak membatalkan puasa pelakunya, tetapi tidak diragukan lagi ia merupakan masalah yang pelik, dan Majma’ Al Fiqih Al Islami tatkala mempelajari tema pembatal-pembatal puasa pada rapat tahunan yang ke-10 menangguhkan memutuskan hukum masalah ini karena membutuhkan pembahasan dan pembelajaran yang lebih lanjut terhadap pengaruhnya pada puasa.

Untuk kehati-hatian maka bagi orang yang disuntikkan padanya darah –bukan untuk orang yang membutuhkan tranfusi darah berulang ulang- mengganti puasa pada hari itu lebih utama sebagai jalan keluar dari perselisihan para ulama, terlebih lagi kebanyakan orang yang melakukan transfusi darah boleh membatalkan puasa disebabkan sakit. Allahu’alam.

 

 

 

Puasa    


Hukum Donor Darah dan Pengambilan Sampel Darah saat Berpuasa

Posted on August 3, 2012 By

Donor Darah

Di sebagian daerah masih banyak orang yang meninggal disebabkan kekurangan pasokan darah di rumah sakit sehingga darah diambil dari orang yang mendonorkan kemudian didistribusikan sesuai kandungannya di dalam paket yang disimpan di bank darah.

Setelah transfusi darah, orang yang mendonaturkan darah akan merasa gemetar maka dianjurkan meminum cairan yang banyak dan memakan makanan yang bergizi selama 24 jam ke depan, dan menghindari berolahraga yang berat atau mengangkat sesuatu yang berat selama 24 jam, selain kedua hal tersebut, ia dapat melakukan aktifitas sebagaimana biasa.

Oleh karena itu donor darah merupakan pekerjaan yang berat bagi donatur disebabkan banyak darah yang diambil darinya bahkan melebihi jumlah darah yang dikeluarkan ketika berbekam. Karenanya ia dihukumi seperti berbekam, dan jumhur fuqaha’ mengatakan bahwa bekam tidak membatalkan puasa, maka donor darah juga tidak membatalkan puasa,

Akan tetapi lebih baik menghindari donor darah ketika berpuasa, karena keluarnya darah dari orang yang berpuasa mengakibatkan badan lemah, sehingga membutuhkan makan dan minum untuk menguatkan badan.

Namun jika terdapat kebutuhan darurat tidak mengapa mendonorkan darah, bahkan menjadi wajib pada sebagian keadaan, dan tidak membatalkan puasa. Dan apabila ia lemah setelah donor darah dan membutuhkan makan dan minum maka tidak mengapa ia berbuka karena ia dihukumi seperti orang sakit.

 

Pengambilan Sampel Darah

Mengambil sampel darah untuk dianalisis merupakan proses yang sederhana yang dilakukan pada pasien untuk mengetahui sebagian penyakit. Jumlah darah yang dikeluarkan dari pasien antara 5-25 ml atau sesuai jenis pemeriksaan yang diminta. Mengambil darah untuk dianalisis tidak menyerupai bekam karena jumlah darah yang dikeluarkan sedikit, tidak mempengaruhi tubuh, dan tidak menjadikan badan pasien lemah, tetapi ia menyerupai pendarahan akibat luka kecil, dan yang demikian tidak termasuk membatalkan puasa secara syariat.

Oleh karena itu tidak seorangpun dari ulama fiqih yang mengatakan bahwa mengeluarkan darah untuk dianalisis membatalkan puasa, walaupun ulama tersebut mengatakan berbekam membatalkan puasa. Allahu ‘alam

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Apakah Berbekam Membatalkan Puasa?

Posted on August 2, 2012 By

 

Ulama fiqih sepakat mengeluarkan darah secara tidak sengaja tidak membatalkan puasa, sebagaimana darah keluar dari hidung yang dinamakan dengan epistaksis (mimisan), atau keluar di sela-sela giginya atau menggaruk kulitnya karena terpaksa hingga mengeluarkan darah, atau keluarnya darah penyakit (istihadoh) pada perempuan.

Hal tersebut karena alasan berikut ini:

  1. Tidak segaja dan ia tidak dapat mencegah darah keluar
  2. Mewajibkan mengganti puasa pada orang yang keluar darah akibat luka atau bisul, mimisan, gusi berdarah saat bersiwak merupakan hal yang memberatkan.

Syariat datang berlandaskan toleransi dan kemudahan, Allah berfirman:   “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu”. (Al Baqarah : 185)

“Dan dia sekali kali tidak menjadikan utuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al Hajj : 78)

Allah tidak membebani seseorang melainkan seseuai dengan kesanggupannya”. (Al Baqarah : 286).

Adapun mengeluarkan darah dari tubuh dengan secara sengaja seperti berbekam, hukumnya masih diperselisihkan.

Disebutkan dalam sahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Salallahu’alaihi wasallam berbekam dan memberikan upah pada orang yang membekam. Nabi salallahu ‘alaihi wassallam ia berkata : “Sebaik-baik kalian untuk berobat adalah berbekam”.

Bekam ada dua jenis,

  1. Bekam kering yaitu meletakkan gelas pada tempat yang tertentu sesuai jenis penyakitnya, kemudian menyedot udara melalui selang (adakalanya melalui mulut atau dengan menggunakan alat penyedot atau dengan kertas yang dibakar) sehingga kosonglah udara di dalam gelas, dengan hal tersebut tersedotlah bagian permukaan kulit yang di dalam gelas dan dibiarkan gelas tersebut selama 3-5 menit, kemudian dicabut gelas ketika didapati daerah merah pada permukaan kulit pada area mulut gelas.

Bekam kering tidak mempengaruhi puasa karena tidak ada darah yang dikeluarkan, hanya saja tujuannya membuat darah berkumpul yang membantu menghilangkan sebagian penyakit dengan izin Allah Ta’ala.

2. Bekam basah yaitu bekam yang sudah dikenal sejak dahulu dengan menancapkan gelas di daerah yang diinginkan dengan cara mengosongkan udara di dalam gelas tersebut. Maka meluaslah permukaan yang di dalam gelas tersebut, juga tertarik darah dan terus berkumpul di daerah ini. Kemudian gelas dilepaskan dan dilakukan penyayatan di permukaan kulit tersebut dengan mata pisau yang steril. Lalu ditancapkan gelas tersebut sekali lagi, maka gelas tersebut menyedot darah yang rusak. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga dianggap cukup.

Diperkirakan jumlah darah kotor yang keluar pada proses pembekaman dalam satu kali kira-kira 100-150gram, jumlah ini lebih sedikit dari pada jumlah yang diambil ketika donor darah. Pada donor, darah yang diambil sejumlah450gram.

Ulama dahulu berselisih pendapat tentang hukum bekam, mayoritas fuqoha mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i berpendapat bahwa bekam tidak membatalkan puasa. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan bekam ketika sedang ihram dan ketika puasa.

Juga hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, dari Anas bin Malik ia ditanyakan orang : “Apakah kalian dahulu memakruhkan bekam?” ia menjawab:  “Tidak, kecuali menyebabkan lemah“, dan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri, ia berkata: “Rasulullah SAW memberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbekam”.

Ulama mazhab Hanbali berpendapat berbekam membatalkan puasa, mereka berdalilkan dengan hadits Syaddat bin Aus, ia berkata “Adalah kami dahulu bersama Rasulallahu’alaihi wasallam waktu pembebasan kota Mekah, maka beliau melihat seorang yang sedang berbekam pada hari ke-19 di bulan Ramadhan maka ia berkata sambil menarik tanganku: “Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam”.

Mayoritas fuqaha’ menjawab hadis yang menjadi dalil ulama mazhab Hanbali bahwa hadits tersebut hukummya dihapuskan (mansukh) oleh hadits ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi SAW melakukan bekam saat ia sedang berpuasa. Hadits ibnu Abbas terjadi  dua tahun setelah hadis Syaddat bin Aus, yaitu saat Haji Wada’. Dan mengambil hukum dari hadis yang terakhir lebih utama.

Dalil bahwa ada penghapusan hukum terhadap hadis Abu Said Al Khudri bahwasanya keringanan datang setelah kewajiban, sehingga hadits Abu Said Al Khudri ini menghapuskan hukum hadis Syaddat bin Aus.

Maka pendapat yang terkuat yaitu pendapat jumhur fuqaha’ bahwa berbekam tidak membatalkan puasa, tetapi lebih baik bagi orang berpuasa menghindarinya.

Imam Syafi’i berkata “jika salah seorang berpuasa dan menghindari berbekam itu lebih baik menurutku dan lebih berhati-hati sehingga tidak menjadikannya lemah berpuasa sehingga ia membatalkan puasanya”. Akan tetapi apabila sangat membutuhkan berbekam bagi orang yang berpuasa disebabkan untuk pengobatan dan tidak mungkin menundanya maka tidak mengapa untuk berbekam dan tidak membatalkan puasa, dan jika ia lemah setelah berbekam sehingga butuh untuk membatalkan puasa maka tidaklah mengapa karena dia dihukumi seperti orang yang sakit.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fihs Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Pembagian Kelompok Pasien Diabetes ketika Berpuasa

Posted on August 1, 2012 By

 

Majma’ fiqih Islami no.183 menetapkan hukum tentang diabetes dan puasa orang yang terkena diabetes. Mereka dibagi menjadi empat kelompok:

Kelompok pertama : pasien yang jika berpuasa akan memperparah penyakitnya, ini dipastikan oleh dokter. Yang termasuk kelompok ini :

  • Terjadinya penurunan gula yang drastis pada tiga bulan dan dimulai pada bulan Ramadhan.
  • Kadar gula darah naik-turun secara berulang.
  • Menjadi mati rasa disebabkan turun gula darah. Ini adalah keadaan yang menimpa sebagian pasien diabetes, terkhusus jenis penyakit diabetes pertama, berulang-ulang gula darah mereka turun secara drastis untuk masa yang lama.
  • Sulit untuk mengontrol gula darah untuk masa yang lama
  • Terjadinya kelipatan (diabetik ketoasidosis asidosis) atau berlipat gandanya (selama 3 bulan dan diawali di bulan Ramadhan).
  • Mempunyai penyakit akut lainnya yang menyertai diabetes.
  • Pasien diabetes yang melakukan olahraga ekstrim
  • Pasien diabetes yang juga menderita gagal ginjal
  • Perempuan hamil yang terkena diabetes

Kelompok kedua: pasien yang jika berpuasa menyebabkan peningkatan gula darah secara tinggi, ini dipastikan oleh dokter. Yang termasuk kelompok ini:

  • Pasien yang menderita gula darah tinggi, rata-rata 180-300mg/dcl dan jumlah hemoglobin yang menumpuk (menjadi gula) yang melebihi 10%.
  • Pasien yang menderita gagal ginjal.
  • Pasien yang menderita kerusakan pada arteri besar (seperti sakit jantung dan arteri).
  • Pasien yang pengobatan dengan cara penyuntikkan insulin sendiri atau meminum obat penurun kadar gula yang merangsang sel-sel memproduksi insulin pada pankreas.
  • Pasien yang mempunyai komplikasi penyakit gula dengan penyakit lainnya.
  • Pasien  lanjut usia dan menderita penyakit komplikasi
  • Pasien yang jika meminum obat mempengaruhi otak.

Hukum Puasa Kelompok Pertama dan Kedua :

Boleh bagi kelompok ini membatalkan puasa, bahkan tidak boleh berpuasa untuk mencegah terjadinya kerusakan pada diri mereka. Allah berfirman: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (Al Baqarah : 195), dan “Janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“.( An Nisaa’ : 29).

Dokter harus menjelaskan kepada pasien bahaya puasa bagi mereka, yang menyebabkan besar kemungkinan naiknya jumlah gula darah secara berlipat ganda yang dapat mengakibatkan bahaya kesehatan mereka atau hidup mereka. Dan juga kewajiban dokter untuk melakukan pemeriksaan medis yang sesuai agar pasien dapat berpuasa tetapi tidak berbahaya.

Bolehnya berbuka puasa di bulan Ramadhan karena sebab sakit kepada kedua kelompok tersebut berdasarkan firman Allah Ta’ala: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin“.(QS. Al Baqarah 184). Sehingga jika ia berpuasa dapat mengakibatkan mudharat baginya sehingga ia berdosa tetapi puasanya sah.

Kelompok ketiga: pasien yang jika berpuasa menyebabkan peningkatan gula darah menengah, seperti pasien diabetes yang memiliki keadaan gula darah tetap atau bisa mengontrolnya dengan obat penurun gula darah yang merangsang sel pankreas menghasilkan insulin.

Kelompok keempat: pasien yang jika berpuasa menyebabkan peningkatan gula darah namun rendah, seperti pasien diabetes yang memiliki keadaan gula darah tetap, ia bisa mengontrolnya dengan menjaga makanannya, atau meminum obat penurun gula darah yang tidak merangsang sel pankreas menghasilkan insulin tetapi hanya menambah kerja insulin yang ada pada pankreas.

Hukum Puasa Kelompok Ketiga dan Keempat:

Tidak boleh bagi pasien kedua kelompok ini berbuka puasa, karena secara pendataan medis tidak menunjukkan kemungkinan naiknya gula darah yang dapat membahayakan bagi kesehatan dan hidup pasien, bahkan banyak dari mereka yang menjadi lebih baik dengan berpuasa. Dan wajib bagi dokter berpegang dengan hukum ini serta memberikan pengobatan yang cocok untuk setiap keadaan yang membahayakan.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Dampak Anastesi (pembiusan) pada Puasa

Posted on July 31, 2012 By

Anastesi suatu cara kedokteran untuk menghilangkan rasa sakit yang bersifat sementara. Sebagian operasi hanya membutuhkan anastesi lokal pada tempat  pembedahan, sedangkan operasi lainnya mengharuskan pasien hilang kesadaran total.

Pada umumnya bius total disertai pemberian larutan nutrisi (infus) agar pasien terhindar dari dehidrasi. Apabila ini terjadi maka sepakat para ulama bahwa puasanya batal karena adanya pemberian nutrisi ini dan bukan akibat pemberian anestesi.

Majmaa’ Al Fiqh Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan ke X no.93 dalam keputusan mengenai hal-hal yang tidak membatalkan puasa “(no.10) gas anastesi (obat bius) selama pasien tidak diberikan larutan nutrisi (infus)”.

Adapun anastesi tanpa larutan nutrisi maka inilah permasalahan yang akan kita bahas:

I. Anastesi lokal ada berbagai jenis, di antaranya:

1. Totok (anastesi Cina), yaitu menusukkan jarum kering pada pusat indra perasa di bawah kulit, yang menyebabkan beberapa kelenjar mengeluarkan zat bius alami yang dikandung oleh tubuh yang menyebabkan hilangnya kemampuan merasakan.

Jenis ini tidak membatalkan puasa karena tidak memasukkan sesuatu ke kerongkongan, dan hanya terjadi interaksi fisik oleh hasil pembiusan tersebut;

2. Anastesi dengan injeksi, yaitu menyuntikkan bius di bawah kulit yang meghasilkan pembiusan pada tempat tertentu.

Jenis ini tidak membatalkan puasa, karena tidak memasukkan bahan apapun ke dalam kerongkongan.

3. Anastesi inhalasi, yaitu anastesi dengan cara pasien menghirup bahan gas yang menyebabkan terjadinya pembiusan.

Jenis ini tidak membatalkan puasa karena bahan berbentuk gas yang tidak terasa dan tidak mengandung bahan nutrisi.

Oleh karena itu seluruh jenis pembiusan lokal tidak membatalkan puasa.

II. Pembiusan total yaitu pembiusaan yang menghilangkan kesadaran dan indera perasa di seluruh tubuh sehingga ia seperti keadaan tertidur nyenyak.

Tahapan anastesi umum seperti berikut:

  • Menghirup gas seperti eter atau semisalnya, maka darah yang mengalir di paru-paru membawa obat bius ke dalam sel-sel darah pusat.
  • Pemberian suntikan di pembuluh darah yang mengandung bahan zat obat hipnotik yang bekerja merelaksasikan otot-otot secara penuh.
  • Memasukkan selang khusus langsung ke dalam trakea melalui hidung atau mulut, selang ini terhubung ke sistem pernafasan untuk pemberian gas yang menyebabkan hilangnya kesadaran penuh pada pasien.

Anastesi umum dengan gas bius atau cairan bius bukanlah makanan atau minuman maka tidak membatalkan puasa karena pemberiannya melalui pembuluh darah atau melalui sistem pernafasan dan bukan melalui kerongkongan.

Adapun hilang kesadaran disebabkan anastesi dianalogikan dengan pingsan bahwa keduanya sama-sama kehilangan rasa dan kesadaran.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai status puasa orang yang tidak sadar :

  1. Mazhab Hanafi mengatakan puasanya sah, cukup berniat di malam hari sekalipun orang yang pingsan tidak sadarkan diri sepanjang hari,
  2. Mazhab Syafi’i dan Hanbali mengatakan puasanya sah jika ia sempat sadar di siang hari serta berniat di malam hari.
  3. Mazhab Maliki mengatakan puasanya sah jika ia sadar lebih dari setengah hari.

Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa pingsannya orang berniat di malam hari untuk berpuasa tidak membatalkan puasa apabila orang tersebut sempat sadar di siang hari, namun jika pingsannya sepanjang hari maka tidak sah puasanya. Dan kebanyakan pasien anastesi menjadi sadar di siang hari sehingga puasanya sah.

Mayoritas peserta seminar fiqih kedokteran yang ke-9 (divisi OKI bidang kedokteran) di Kuwait tahun 1998  berpendapat bahwa operasi dengan pembiusan total tidak membatalkan puasa apabila pasien telah berniat puasa di malam hari.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pasien terkadang muntah setelah anastesi dan ini tidak membatalkan puasanya. Karena yang membatalkan puasa adalah muntah yang disengaj, sesuai dengan hadis “Barang siapa yang muntah tidak disengaja maka tidak wajib mengqodho, dan siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib menqodho”.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa