Pembagian Kelompok Pasien Diabetes ketika Berpuasa

Posted on August 1, 2012 By

 

Majma’ fiqih Islami no.183 menetapkan hukum tentang diabetes dan puasa orang yang terkena diabetes. Mereka dibagi menjadi empat kelompok:

Kelompok pertama : pasien yang jika berpuasa akan memperparah penyakitnya, ini dipastikan oleh dokter. Yang termasuk kelompok ini :

  • Terjadinya penurunan gula yang drastis pada tiga bulan dan dimulai pada bulan Ramadhan.
  • Kadar gula darah naik-turun secara berulang.
  • Menjadi mati rasa disebabkan turun gula darah. Ini adalah keadaan yang menimpa sebagian pasien diabetes, terkhusus jenis penyakit diabetes pertama, berulang-ulang gula darah mereka turun secara drastis untuk masa yang lama.
  • Sulit untuk mengontrol gula darah untuk masa yang lama
  • Terjadinya kelipatan (diabetik ketoasidosis asidosis) atau berlipat gandanya (selama 3 bulan dan diawali di bulan Ramadhan).
  • Mempunyai penyakit akut lainnya yang menyertai diabetes.
  • Pasien diabetes yang melakukan olahraga ekstrim
  • Pasien diabetes yang juga menderita gagal ginjal
  • Perempuan hamil yang terkena diabetes

Kelompok kedua: pasien yang jika berpuasa menyebabkan peningkatan gula darah secara tinggi, ini dipastikan oleh dokter. Yang termasuk kelompok ini:

  • Pasien yang menderita gula darah tinggi, rata-rata 180-300mg/dcl dan jumlah hemoglobin yang menumpuk (menjadi gula) yang melebihi 10%.
  • Pasien yang menderita gagal ginjal.
  • Pasien yang menderita kerusakan pada arteri besar (seperti sakit jantung dan arteri).
  • Pasien yang pengobatan dengan cara penyuntikkan insulin sendiri atau meminum obat penurun kadar gula yang merangsang sel-sel memproduksi insulin pada pankreas.
  • Pasien yang mempunyai komplikasi penyakit gula dengan penyakit lainnya.
  • Pasien  lanjut usia dan menderita penyakit komplikasi
  • Pasien yang jika meminum obat mempengaruhi otak.

Hukum Puasa Kelompok Pertama dan Kedua :

Boleh bagi kelompok ini membatalkan puasa, bahkan tidak boleh berpuasa untuk mencegah terjadinya kerusakan pada diri mereka. Allah berfirman: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (Al Baqarah : 195), dan “Janganlah kamu membunuh dirimu, Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu“.( An Nisaa’ : 29).

Dokter harus menjelaskan kepada pasien bahaya puasa bagi mereka, yang menyebabkan besar kemungkinan naiknya jumlah gula darah secara berlipat ganda yang dapat mengakibatkan bahaya kesehatan mereka atau hidup mereka. Dan juga kewajiban dokter untuk melakukan pemeriksaan medis yang sesuai agar pasien dapat berpuasa tetapi tidak berbahaya.

Bolehnya berbuka puasa di bulan Ramadhan karena sebab sakit kepada kedua kelompok tersebut berdasarkan firman Allah Ta’ala: (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin“.(QS. Al Baqarah 184). Sehingga jika ia berpuasa dapat mengakibatkan mudharat baginya sehingga ia berdosa tetapi puasanya sah.

Kelompok ketiga: pasien yang jika berpuasa menyebabkan peningkatan gula darah menengah, seperti pasien diabetes yang memiliki keadaan gula darah tetap atau bisa mengontrolnya dengan obat penurun gula darah yang merangsang sel pankreas menghasilkan insulin.

Kelompok keempat: pasien yang jika berpuasa menyebabkan peningkatan gula darah namun rendah, seperti pasien diabetes yang memiliki keadaan gula darah tetap, ia bisa mengontrolnya dengan menjaga makanannya, atau meminum obat penurun gula darah yang tidak merangsang sel pankreas menghasilkan insulin tetapi hanya menambah kerja insulin yang ada pada pankreas.

Hukum Puasa Kelompok Ketiga dan Keempat:

Tidak boleh bagi pasien kedua kelompok ini berbuka puasa, karena secara pendataan medis tidak menunjukkan kemungkinan naiknya gula darah yang dapat membahayakan bagi kesehatan dan hidup pasien, bahkan banyak dari mereka yang menjadi lebih baik dengan berpuasa. Dan wajib bagi dokter berpegang dengan hukum ini serta memberikan pengobatan yang cocok untuk setiap keadaan yang membahayakan.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Dampak Anastesi (pembiusan) pada Puasa

Posted on July 31, 2012 By

Anastesi suatu cara kedokteran untuk menghilangkan rasa sakit yang bersifat sementara. Sebagian operasi hanya membutuhkan anastesi lokal pada tempat  pembedahan, sedangkan operasi lainnya mengharuskan pasien hilang kesadaran total.

Pada umumnya bius total disertai pemberian larutan nutrisi (infus) agar pasien terhindar dari dehidrasi. Apabila ini terjadi maka sepakat para ulama bahwa puasanya batal karena adanya pemberian nutrisi ini dan bukan akibat pemberian anestesi.

Majmaa’ Al Fiqh Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan ke X no.93 dalam keputusan mengenai hal-hal yang tidak membatalkan puasa “(no.10) gas anastesi (obat bius) selama pasien tidak diberikan larutan nutrisi (infus)”.

Adapun anastesi tanpa larutan nutrisi maka inilah permasalahan yang akan kita bahas:

I. Anastesi lokal ada berbagai jenis, di antaranya:

1. Totok (anastesi Cina), yaitu menusukkan jarum kering pada pusat indra perasa di bawah kulit, yang menyebabkan beberapa kelenjar mengeluarkan zat bius alami yang dikandung oleh tubuh yang menyebabkan hilangnya kemampuan merasakan.

Jenis ini tidak membatalkan puasa karena tidak memasukkan sesuatu ke kerongkongan, dan hanya terjadi interaksi fisik oleh hasil pembiusan tersebut;

2. Anastesi dengan injeksi, yaitu menyuntikkan bius di bawah kulit yang meghasilkan pembiusan pada tempat tertentu.

Jenis ini tidak membatalkan puasa, karena tidak memasukkan bahan apapun ke dalam kerongkongan.

3. Anastesi inhalasi, yaitu anastesi dengan cara pasien menghirup bahan gas yang menyebabkan terjadinya pembiusan.

Jenis ini tidak membatalkan puasa karena bahan berbentuk gas yang tidak terasa dan tidak mengandung bahan nutrisi.

Oleh karena itu seluruh jenis pembiusan lokal tidak membatalkan puasa.

II. Pembiusan total yaitu pembiusaan yang menghilangkan kesadaran dan indera perasa di seluruh tubuh sehingga ia seperti keadaan tertidur nyenyak.

Tahapan anastesi umum seperti berikut:

  • Menghirup gas seperti eter atau semisalnya, maka darah yang mengalir di paru-paru membawa obat bius ke dalam sel-sel darah pusat.
  • Pemberian suntikan di pembuluh darah yang mengandung bahan zat obat hipnotik yang bekerja merelaksasikan otot-otot secara penuh.
  • Memasukkan selang khusus langsung ke dalam trakea melalui hidung atau mulut, selang ini terhubung ke sistem pernafasan untuk pemberian gas yang menyebabkan hilangnya kesadaran penuh pada pasien.

Anastesi umum dengan gas bius atau cairan bius bukanlah makanan atau minuman maka tidak membatalkan puasa karena pemberiannya melalui pembuluh darah atau melalui sistem pernafasan dan bukan melalui kerongkongan.

Adapun hilang kesadaran disebabkan anastesi dianalogikan dengan pingsan bahwa keduanya sama-sama kehilangan rasa dan kesadaran.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai status puasa orang yang tidak sadar :

  1. Mazhab Hanafi mengatakan puasanya sah, cukup berniat di malam hari sekalipun orang yang pingsan tidak sadarkan diri sepanjang hari,
  2. Mazhab Syafi’i dan Hanbali mengatakan puasanya sah jika ia sempat sadar di siang hari serta berniat di malam hari.
  3. Mazhab Maliki mengatakan puasanya sah jika ia sadar lebih dari setengah hari.

Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa pingsannya orang berniat di malam hari untuk berpuasa tidak membatalkan puasa apabila orang tersebut sempat sadar di siang hari, namun jika pingsannya sepanjang hari maka tidak sah puasanya. Dan kebanyakan pasien anastesi menjadi sadar di siang hari sehingga puasanya sah.

Mayoritas peserta seminar fiqih kedokteran yang ke-9 (divisi OKI bidang kedokteran) di Kuwait tahun 1998  berpendapat bahwa operasi dengan pembiusan total tidak membatalkan puasa apabila pasien telah berniat puasa di malam hari.

Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pasien terkadang muntah setelah anastesi dan ini tidak membatalkan puasanya. Karena yang membatalkan puasa adalah muntah yang disengaj, sesuai dengan hadis “Barang siapa yang muntah tidak disengaja maka tidak wajib mengqodho, dan siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib menqodho”.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Dampak Pemasangan Spiral (IUD) pada Puasa

Posted on July 30, 2012 By

 

Bagi beberapa perempuan penggunaan spiral menyebabkan perubahan siklus haid, bertambahnya waktu serta jumlah darah.  Siklus wanita haid yang biasanya 6 atau 7 hari dapat berubah menjadi  10 hari atau lebih akibat penggunaan spiral.

Cara berinteraksi dengan kekacaun siklus tersebut -baik  menjadi maju atau mundur- telah menjadi perselisihan ulama-ulama terdahulu.

Pendapat yang lebih kuat; jika terjadi perubahan siklus haid pada seseorang perempuan dengan menjadi maju atau mundur, maka perempuan tersebut wajib menyesuaikan diri dengannya. Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan dipilih juga oleh Ibnu Qudamah dan Ibnu Taimiyah, rahimahumullah.

Oleh karena itu wanita yang bertambah siklus haidnya dari yang biasa dikarenakan spiral maka ia tetap harus meninggalkan sholat dan puasa selama darah tersebut tidak terus menerus keluar.

Namun terkadang keluar bercak darah yang merupakan efek samping dari pemasangan spiral, sebagaimana keluarnya bercak-bercak darah perempuan ketika hari-hari sucinya. Ini adalah akibat pemasangan spiral, dan darah tersebut adalah darah penyakit sehingga perempuan tidak boleh meninggalkan sholat dan puasa pada kondisi ini tetap sah.

Pemasangan spiral tidak membatalkan puasa karena tidak masuk ke tubuh melalui kerongkongan  Dan rahim bukanlah rongga yang dimaksud dalam puasa, dan tidak ada hubungan di antara keduanya.  Rahim terletak jauh dari alat pencernaan. Selain itu, semua zat padat tidak bisa menjadi nutrisi bagi tubuh, sedangkan spiral adalah zat padat, maka ia tidak membatalkan puasa.

Majma’ Al Fiqhi Al Islami (divisi fiqih OKI) memutuskan dalam rapat tahunan kesepuluh no 93 menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa: “4 endoskopi rahim, memasukkan spiral dan yang seperti keduanya ke dalam rahim”.

 

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Bolehkah Mengunakan Spiral (IUD)?

Posted on July 29, 2012 By

Spiral adalah salah satu alat pencegah kehamilan yang bersifat sementara.  Oleh karena itu, hukumnya tidak berbeda dengan alat-alat pencegah kehamilan lainnya, yaitu boleh, dan tidak makruh apabila ada kebutuhan untuk menggunakannya.  Apabila tidak ada kebutuhan maka hukumnya makruh.

Telah di putuskan oleh Majma’ Al Fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapat tahunan ke V yang berlangsung di Kuwait: “ Boleh mengontrol kehamilan yang bersifat sementara, dengan tujuan menjarakkan masa hamil, atau menghentikannya untuk masa tertentu, apabila ada alasan yang sesuai dengan syariat, dengan syarat hasil kesepakatan suami dan istri, serta tidak mengakibatkan mudharat dan dengan cara yang sesuai syariat” .

Hal tersebut dibolehkan dengan 3 syarat :

  1. Penggunaan alat KB ini dengan persetujuan kedua belah pihak, karena keduanya memiliki hak, maka tidak boleh tanpa izin dari keduanya.
  2. Adanya kemashlahatan yang sesuai dengan syariat untuk menggunakan alat KB. Tidak boleh menggunakan alat KB karena takut miskin, atau sebab-sebab lainnya yang tidak sesuai syariat. Telah diputuskan oleh Majma’ Al Fiqhi Al Islami (Rabithah  Al ‘Alam Al Islami) dalam rapat tahunan yang ke III di Mekah : “Tidak boleh menggunakan alat KB karena takut miskin,  karena Allah yang Maha Pemberi Rezeki yang Maha Kuat. “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya”.(Hud : 6). Maupun sebab-sebab lainnya yang tidak sesuai syariat”.
  3. Tidak ada mudharat dalam menggunakan alat KB ini, baik bagi laki-laki maupun perempuan, sementara kebanyakan alat-alat KB yang ada sekarang ada efek sampingnya.

Akan tetapi kalau kita perhatikan spiral berbeda dengan alat-alat KB lainnya.  Karena spiral bekerja secara kontraksi pada rongga ovarium dan rahim yang  menolak sel telur dari sistem reproduksi, sehingga sel telur mati sebelum pembuahan. Namun terkadang  spiral baru dapat menolak sel telur dari rahim setelah pembuahan, akan tetapi kontraksi ini mencegah menempelnya telur yang telah dibuahi di dinding rahim.

Oleh karena itu, sebagian peneliti mengatakan haram menggunakan spiral, karena cara kerjanya sama dengan aborsi dini.  Tetapi tampaknya perkataan yang mengharamkan tidak benar, karena hal berikut ini :

  1. Karena asal cara kerja spiral adalah mencegah pembuahan.  Adapun terjadinya pembuahan sangat jarang menurut penelitian, kaidah yang telah ditetapkan oleh syariat  : “sesungguhnya hukum mayoritas sama dengan hukum keseluruhan” .
  2. Bahwa sel telur yang telah dibuahi tetapi belum menempel di rahim bukanlah janin, sebagaimana firman Allah “kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)” (Al Mu’minun : 13). Oleh karena itu melepaskannya dari rahim bukanlah aborsi,

Al Qurthubi berkata : “ Secara pasti sperma tidak mempunyai hukum apa-apa, dan tidak mengapa jika perempuan membuangnya (mengeluarkannya), selama belum bergabung dengan rahim”.

Bahwa sel telur yang telah dibuahi tidak mempunyai hukum sebelum ia menempel di rahim. Telah diputuskan oleh OKI, divisi kedokteran tahun 1408 H : “Sel telur yang telah dibuahi tidak mempunyai hukum apa-apa sebelum menempel di dinding rahim”.  Sebagaimana juga telah dilakukan penelitian tahun 1413-1415 H maka diputuskan badan ilmu kesehatan islami Yordania: “Sel telur yang telah dibuahi  mulai memiliki kehidupan setelah menempel di dinding rahim, antara hari keenam atau ketujuh setelah pembuahan. Oleh karena itu mengunakan spiral untuk mencegah menempelnya sel telur yang telah dibuahi di dinding rahim adalah boleh “.

 

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

fiqih    


Penggunaan Inhaler pada Penderita Asma saat Berpuasa

Posted on July 28, 2012 By

 

         Di antara penyakit yang banyak diderita oleh manusia adalah  asma.  Sebagian pasien penyakit asma menggunakan obat semprot (inhaler spray seperti Ventolin) melalui mulut yang berisi cairan yang mengandung air, bahan-bahan obat serta oksigen.  Cara penggunaannya dengan menyemprotkan obat pada mulut, serta menghirup dalam-dalam hingga melewati kerongkongan dan sampai pada bronkus yang terdapat pada paru-paru. Tetapi seringkali meninggalkan bekas di kerongkongan dan terkadang dalam jumlah banyak. .

Ahli fiqih kontemporer berselisih menjadi dua pendapat tentang hukum penggunaan inhaler ini, apakah membatalkan puasa sehingga wajib mengganti puasa atau tidak ?

Pendapat pertama : penggunaan inhaler membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa, karena inhaler mengandung air.  Dan sebagian dokter telah memastikan sampainya campuran tersebut masuk ke lambung.  Sesuatu yang sudah di pastikan masuk ke lambung dapat membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa tersebut.

Pendapat kedua : penggunaan inhaler melalui mulut tidak membatalkan puasa dan tidak wajib mengganti puasa, karena inhaler digunakan pasien dengan cara menghirupnya hingga sampai ke paru-paru  melalui trakea, bukan melalui lambung.  Sehingga tidak termasuk makan dan minum dan tidak semakna dengan keduanya.

Pendapat kedua lebih kuat, karena obat semprot masuk ke paru-paru, dan masuknya ke paru-paru tidak membatalkan puasa.  Adapun perkataan pendapat pertama bahwa obat semprot mengandung air, dan ia masuk melalui tempat yang biasa di gunakan untuk makan dan minum yaitu mulut, maka tidak aman dari masuknya sesuatu ke lambung, maka jawabannya ada beberapa cara :

  1. Bahwa zat yang disemprotkan dari spray (inhaler) belum dapat dipastikan (masih diragukan) apakah zat tersebut sampai atau tidak ke lambung.  Sedangkan pada dasarnya puasanya adalah sah.  Dan sesuatu yang pasti tidak dapat dihilangkan dengan sesuatu yang meragukan.
  2. Sepakat ulama bahwa orang yang berpuasa boleh berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung. Berkumur-kumur akan meninggalkan bekas air yang jika menelan ludah akan ikut terbawa ke lambung.  Sedangkan masuknya obat ini ke kerongkongan sangatlah sedikit sehingga dapat dianalogikan dengan berkumur-kumur, bahkan dengan jumlah lebih sedikit.Kemasan inhaler ini berisi 10 ml  dan digunakan untuk 200 kali semprot.  Maka satu kali semprot hanya seperduapuluh-nya, serta kandungan airnya sangat sedikit sehingga sulit untuk menghindarinya.  Dan air tersebut bukanlah untuk diminum, maka ini masuk dalam kaidah : ” hukum sesuatu yang statusnya adalah sebagai pengikut berbeda dengan hukum sesuatu yang terpisah”.
  3. Para dokter mengatakan bahwa siwak (yang berasal dari kayu arak -ed.) mengandung 8 bahan kimiawi, tetapi ia dibolehkan bagi orang berpuasa.  Tidak diragukan akan masuknya bahan kimia tersebut ke lambung, maka kita analogikan kandungan obat tersebut dengan bahan kimia pada siwak, maka menggunakan obat tersebut tidak membatalkan puasa seperti siwak.

Dan pendapat yang mengatakan tidak batalnya puasa, merupakan pendapat mayoritas peserta muktamar fiqih kedokteran yang ke IX ( divisi OKI ilmu kedokteran ) di Kuwait 1998.

Dan pendapat ini juga yang dipilih Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Ilmiah Arab Saudi ketika menjawab pertanyaaan tentang itu : “ Obat semprot paru-paru yang digunakan pasien dengan cara menghirup hingga masuk ke paru-paru melalui trakea, tidak ke lambung, maka tidak termasuk makan dan minum dan tidak menyerupai keduanya.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fis Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Hukum Meminum Obat Pencegah Haid untuk Berpuasa

Posted on July 27, 2012 By

Ulama fikih telah sepakat bahwa orang yang haid tidak wajib berpuasa dan tidak sah puasanya. Datangnya haid ketika berpuasa membatalkan puasa dan wajib menggantinya di hari yang lain.

Dari Muadzah, ia berkata, aku bertanya pada Aisyah radhiaallahu anha “ Mengapa orang haid mengganti puasa dan tidak mengganti sholat”, ia menjawab “Apakah engkau seorang haruri?”, aku berkata: Aku bukan seorang haruri akan tetapi aku bertanya”, ia menjawab  “Dahulu kami haid pada masa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami diperintahkan untuk mengganti puasa, dan tidak diperintahkan untuk mengganti sholat”. 

Hikmah dibalik hukum ini, bahwa keluarnya darah ketika haid menyebabkan lemahnya badan ketika puasa, maka perempuan membutuhkan makan dan minum untuk menguatkan badan.

Jika haid pada perempuan terkadang bertepatan pada waktu-waktu yang utama untuk ibadah, maka sebagian perempuan meminum pencegah haid agar dapat berpuasa dan shalat bersama orang-orang di bulan Ramadhan, atau untuk mendapatkan puasa sunat pada hari Assyuro, Arafah atau ia memiliki banyak hutang puasa tetapi ingin melakukan puasa syawal.

Meminum obat pencegah haid sudah diketahui sejak zaman dahulu berdasarkan pengetahuan yang ada di setiap masa.  Di zaman modern ini ada cara medis untuk mencegah keluarnya haid diantaranya, pil pencegah haid yang berisi hormon progesteron.

Hormon ini dalam bentuk pil yang diminum melalui mulut untuk mencegah berkurangnya jumlah hormon progesteron di pembuluh darah sehingga dapat mencegah keluarnya darah haid. Hormon progesterone yang digunakan dalam bentuk pil untuk pencegah haid dianggap yang paling aman penggunaannya dan sedikit efek sampingnya, efek penahannya terhadap haid akan hilang ketika berhenti meminumnya, tetapi ia menyebabkan ketidakteraturan masa haid.

Ahli fikih telah bersepakat bahwa memasukkan yang memudharatkan kedalam tubuh tidak boleh dilakukan. Berdasarkan firman Allah Taala : “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”, (Al Baqarah : 195) dan “Dan janganlah kamu membunuh dirimu”,(An Nisaa : 29).

Apabila obat pencegah haid dipastikan mudharatnya pada perempuan maka ia tidak boleh meminumnya. Terdapat kaedah yang ditetapkan dalam syariat yaitu menjaga jiwa dan tidak memasukkan kemudharatan kepadanya, dan di antara kaedah syariah “ Tidak boleh ada kerusakan dan tidak pula merusak”, dan “Menghindari kerusakan lebih diutamakan dari mengharapkan kemaslahatan”.

Adapun jika obat pencegah haid tidak dapat dipastikan akan terjadi mudharat, maka ulama fikih berselisih pendapat tentang itu :

  1. Ulama mazhab Maliki melarang menggunakan obat pencegah haid karena Allah melarang membinasakan diri kepada kehancuran, di antara hal itu memasukkan sesuatu yang menyebabkan kemudharatan berdampak mudharat pada kesehatan manusia. Hak haid untuk keluar dari tubuh maka menahannya supaya tidak keluar menyebabkan mudharod.

Allah SWT melarang dari sesuatu yang jika sesuatu itu memudharatkan bagi tubuh. Juga sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam  “Tidak boleh ada mudharat dan tidak boleh merusak” .

Sesungguhnya menggunakan obat pencegah keluarnya haid tidak dibutuhkan, juga menyalahi fitrah dan tabiat yang Allah SWT ciptakan pada perempuan. Haid tersebut sudah ditakdirkan dari Allah SWT. Kewajiban perempuan hendaknya ridho dengan apa yang telah Allah takdirkan  kepadanya, tidak berpuasa ketika sedang haid dan tidak melakukan itikaf.

Maka tetapnya perempuan pada fitrah dan tidak mencegah keluanya haid, kemudian mengganti puasa di hari lain itu lebih baik. Apabila uzur bagi orang haid untuk berpuasa dan sholat, maka pintu-pintu ibadah yang lain masih banyak seperti : dzikir, shodaqoh berbuat baik kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan.

2. Ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat boleh menggunakan obat pencegah haid, diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa ia berkata: “Tidak mengapa perempuan meminum obat mencegah haid apabila obat tersebut tidak memudharatkan” . Di antara dalil perkataan ini “sesungguhnya asas segala sesuatu adalah boleh selama tidak ada dalil yang mengatakan haram“. Dan tidak didapati dalil yang menunjukkan tidak bolehnya mencegah haid untuk berpuasa maka kita putuskan untuk kembali kepada hukum asal.

Pendapat yang kuat, Allahu ‘alam, adalah merincikan hukum perempuan meminum pil pencegah haid :

  • Tidak menggunakannya jika ia masih gadis, karena sesungguhnya tidak diketahui dampak pengaruhnya terhadap sistem reproduksi.
  • Tidak menggunakannya jika menjadikannya lambat hamil atau yang tidak bisa hamil kecuali dengan obat, karena menolak kerusakan yang mengakibatkannya tidak hamil itu lebih diutamakan dari maslahatnya untuk berpuasa dan sholat beserta kaum muslimin. Selain itu, tidak puasanya ia di saat haid hanya sedikit dibanding sisa hari bulan Ramadhan,.Berdasarkan kaidah fiqih : “Menghindari kerusakan lebih utama dari mengharapkan kemaslahatan”. Pil-pil pencegah haid dapat menyebabkan tidak teraturnya siklus haid bulanan perempuan, juga menjadikan keterlambatan hamil atau bahkan tidak hamil sama sekali kecuali ia minum obat.
  • Boleh menggunakannya jika ia sehat dan apabila diyakini bebas dari mudharat, karena pada dasarnya asas segala sesuatu itu hukumnya boleh. Tetapi penggunaannya tetap dimakruhkan karena mengkonsumsi pil penunda haid akan berdampak –walaupun sesaat- pada ketidakteraturan siklus bulanan haid pada perempuan tersebut. Sebagaimana bahwa mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam jangka waktu yang lama –sepanjang bulan Ramadhan- akan menyebabkan perih, dan terkadang menyebabkan pendarahan yang tidak mudah dihentikan.

Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Ilmiah Arab Saudi pernah ditanyakan tentang hukum mengkonsumsi obat pencegah haid di bulan Ramadhan maka jawabannya: “Boleh seorang perempuan mengkonsumsi obat pencegah haid di bulan Ramadhan apabila dokter-dokter berpengalaman dan dapat dipercaya memastikan pada perempuan tersebut tidak memudharatkannya, dan tidak mempengaruhi alat reproduksinya, tapi lebih baik untuk tidak menggunakannya, karena Allah SWT telah menjadikan rukhsah baginya untuk berbuka apabila haid datang di bulan Ramadhan dan agama Allahpun meridhainya.”.

Kesimpulan : Para ulama fiqih telah bersepakat bahwa puasa wanita yang menggunakan obat-obatan pencegah haid adalah sah dan ia tidak wajib mengqodhonya.

 

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fis Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa


Perlukah Fidyah pada Qadha Puasa Ibu Hamil & Menyusui?

Posted on July 26, 2012 By

Ulama fiqih telah sepakat, bagi wanita hamil dan menyusui apabila dikwatirkan kondisi dirinya atau dirinya serta anaknya, maka boleh keduanya berbuka di bulan Ramadhan dan mengganti di bulan yang lain.

Hal tersebut berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Allah mengangkat bagi musafir kewajiban puasa dan separoh sholat, juga bagi wanita hamil atau menyusui berpuasa”. (HR. Ahmad).

Jika ia khawatir terhadap anaknya saja maka ia boleh juga berbuka. Tetapi dalam kasus ini apakah setelah qadha iawajib membayar fidyah dengan memberi makan setiap hari satu orang miskin?.

Ada beberapa pendapat :

  1. Ulama mazhab Hanafi berpendapat tidak wajib membayar fidyah berdasarkan hadis di atas.
  2. Ulama mazhab Syafi’i dan Hanbali mewajibkan membayar fidyah karena ada atsar Ibnu Abbas yang menjelaskannya.
  3. Ulama mazhab Maliki membedakan antara orang hamil dan orang yang menyusui. Mereka berpendapat wanita menyusui mengqadha dan membayar fidyah. Sedangkan wanita hamil hanya wajib mengganti puasa, karena ia sebenarnya dapat meminta orang lain menyusui anaknya, ini berbeda dengan orang yang hamil. Sehingga  kekhawatiran wanita hamil terhadap kehamilannya sama seperti kekhawatiran terhadap anggota tubuh  lainnya. Wanita hamil boleh berbuka berdampak kepada tubuhnya, bagaikan orang yang sakit. Sedangkan  wanita menyusui berbuka disebabkan hal yang terpisah dari dirinya (bayinya –ed.) sehingga ia wajib membayar fidyah.

Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Arab Saudi pernah ditanya mengenai kasus ini (fatwa no. 2772) yang ditandatangani oleh Syekh Bin Baz, Syekh Abdul Razaq Afifi, dll, jawabannya “Ibu hamil & menyusui yang kwatir akan dirinya atau anaknya hanya wajib menqadha saja tanpa fidyah, ia disamakan seperti orang sakit yang diharap kesembuhannya.” (-ed.)

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Kondisi Medis Penyebab Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka

Posted on July 25, 2012 By

 

     Telah dilakukan penelitian medis modern berkali-kali untuk mengetahui dampak puasa Ramadhan bagi ibu hamil dan janinnya, dan ibu menyusui, maka akan kita uraikan sebagai berikut:

Pertama: dampak puasa bagi ibu hamil

Penelitian ilmiah modern menjelaskan bahwa puasa Ramadhan menjadikan perubahan fisika dan kimia di darah, tetapi ia tidak berdampak pada wanita hamil yang sehat yang tidak sedang mengalami penyakit, sehingga ia bisa berpuasa dengan mudah.

Namun kadang puasa mempengaruhi tingkat gula tubuh yang menyebabkan berkurangnya gula darah, maka apabila perempuan merasakan sangat pusing atau berkurangnya daya penglihatan, atau tidak dapat melakukan aktifitas maka ini dampak yang ditimbulkan ini akibat penurunan kadar gula darah, ia mesti berkonsultasi pada dokter.

Ada beberapa keadaan yang membolehkan bagi orang hamil berbuka di bulan Ramadhan yaitu:

  1. Penurunan tekanan darah sistole yang menyebabkan rasa lemah, atau bisa mengakibatkan pingsan, dan tidak dapat berkonsentrasi.
  2. Muntah saat kehamilan, lebih khusus pada tiga bulan pertama kehamilan. Muntah tersebut mengakibatkan hilangnya cairan dalam jumlah besar dan sebagian kadar garam di tubuh.
  3. Keracunan kehamilan yang akibat tingginya tekanan darah dan adanya albumin di dalam urin.

Kedua : dampak puasa bagi janin

Dari penelitian didapati adanya perubahan pada jumlah detak jantung janin, dan berkurangnya pergerakan janin ketika ibunya berpuasa, akan tetapi ia tidak mempengaruhi perkembangan dan berat janin. Pada sebagian keadaan dianjurkan berkonsultasi kepada dokter spesialis sehingga dokter dapat merekomendasikan untuk tidak berpuasa dalam rangka menghindari kemungkinan terjadinya kemudharatan terhadap perkembangan janin di dalam rahim sesuai dengan kondisi janin dan ibunya.

Ketiga : dampak puasa bagi ibu menyusui

Dari penelitian didapati bahwa ibu menyusui kehilangan lebih kurang 7,6 % kadar air ditubuhnya selama berpuasa, dan konsentrasi natrium dan asam urat meningkat cukup besar dalam berpuasa, dan puasa merubah konsentrasi laktosa, natrium, kalium dan tekanan pada puting susu ibu menyusui.

Hal tersebut tidak jadi masalah untuk tetap berpuasa jika ibu menyusui menggantinya saat berbuka dengan memakan beberapa jenis makanan dan minuman. Jika ini dilakukan tidak akan mempengaruhi jumlah dan jenis susu bagi bayi yang disusui.

Bagi ibu menyusui untuk memperhatikan hal berikut:

  1. Bahwa puasa menyebabkan berkurangnya jumlah susu yang keluar Oleh karena ini si ibu hendaknya memberikan bayinya air dan cairan lain, terlebih saat cuaca panas.
  2. Memperhatikan gizinya dari segi jumlah maupun jenis, dan menambah porsi cairan yang ia minum.
  3. Dianjurkan kepada ibu memperbanyak menyusui di waktu antara berbuka dan sahur.
  4. Dianjurkan pemberian kepada bayi cairan yang bergizi ketika di siang hari dan makanan ringan hingga waktu berbuka.
  5. Wajib bagi ibu menyusui berkonsultasi dengan dokter yang dipercaya ketika merasakan keletihan dan kelelahan.

Dari hal yang telah berlalu kita simpulkan bahwa ibu yang sehat dapat berpuasa walaupun dalam keadaan hamil dan menyusui. Puasa tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya dan janinnya atau bayi yang disusui. Kecuali apabila merasakan sangat pusing, stress, depresi dan tidak mampu melakukan aktifitas, maka ketika itu wajib berkonsultasi kepada dokter, sesungguhnya ini akibat penurunan kadar gula darah.

Adapun ibu hamil atau menyusui –yang memang memiliki penyakit atau disebabkan kehamilan- puasanya harus di bawah pengawasan dokter. Yang diingatkan oleh dokter sesuai dengan yang disebutkan oleh para ahli fiqih yaitu bahwa wanita apabila takut berdampak buruk pada dirinya atau anaknya dan –ia merasakan kemudharatan ini- maka wajib atasnya ketika ini terjadi mendahulukan kesehatannya dari puasanya.

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Berbuka Puasa di Pesawat Terbang & di Negara yang Berbeda

Posted on July 24, 2012 By

 

Berikut ini permasalahan-permasalahan berpuasa bagi orang yang sering berpergian dengan pesawat terbang, dan tinggal di negara-negara yang berbeda:

1. Apabila seseorang melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat, maka ia mulai imsak ketika melihat terbitnya fajar, dan berbuka ketika melihat tenggelamnya matahari. Ia tidak tidak perlu menyesuaikan waktu puasanya dengan waktu negeri yang ia berada diatasnya.

Hal ini karena keumuman dalil syariat yang mewajibkan imsak ketika melihat fajar dan membolehkan berbuka ketika tenggelam matahari. Tetapi apabila mendung dan tidak memungkinkan baginya melihat terbit fajar atau tenggelamnya matahari maka ia beramal (berpuasa) dengan perkiraan yang diyakini, karena inilah yang memungkinkan ia beramal dengannya.

2. Seorang yang berada di suatu negeri dimana matahari telah tenggelam kemudian ia berbuka, namun saat pesawat mendarat ia melihat matahari. Pada kasus ini hendaklah ia meneruskan bukanya karena sesungguhnya ia telah berbuka. Sesuai dengan dalil syar’i, yaitu perkataan Rasulullah SAW: “Apabila malam telah datang dari sini, dan siang telah meninggalkan dari sini, dan telah tenggelam matahari, maka hendaklah orang yang berpuasa berbuka”. (Muttafaqun‘alaihi).

Maka tidak mesti bagi orang tersebut untuk imsak (menahan) kecuali ada dalil syar’i yang lain, tetapi tidak didapati dalil ini. Sebagai contoh jika seseorang melakukan perjalanan ke arah Barat setelah tenggelam matahari (ia telah berbuka –ed.), kemudian ia sampai negara tujuan pada hari yang sama di siang hari dan orang-orang masih berpuasa, maka tidak wajib baginya untuk imsak.

Adapun jika pesawat terbang mendarat sebelum tenggelam matahari yang menyebabkan siangnya menjadi lebih panjang maka ia wajib imsak hingga tenggelam matahari, walaupun siangnya menjadi lebih panjang beberapa jam. Kecuali apabila ia ingin untuk berbuka dan mengganti di hari lain. Ia boleh melakukannya karena ia dalam keadaan musafir.

3. Jika seseorang melakukan perjalanan dengan pesawat atau dengan sarana lainnya dari bagian Timur bumi ke bagian Barat, umumnya orang-orang yang di negara ini lambat dalam menetapkan masuk atau keluarnya bulan Ramadhan dibandingkan negara ia berasal.

Wajib bagi orang tersebut berpuasa bersama mereka sampai tetapnya masuk bulan Syawal, berdasarkan perkataan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam ”Puasa itu pada hari kalian berpuasa dan berhari raya pada hari kalian berhari raya”, dan perkataan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam “Berhari raya pada hari manusia berhari raya(HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu apabila penduduk negeri tujuan lebih dahulu berpuasa dan berhari raya dibandingkan penduduk negeri asalnya, hendaklah ia berhari raya bersama mereka berdasarkan hadis yang telah berlalu.

Akan tetapi jika puasanya kurang dari 29 hari maka ia wajib mengganti hari tersebut setelah Ramadhan,  karena bulan Hijriyah tidak ada yang kurang dari 29 hari.

 

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fis Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Puasa    


Berbuka atau Berpuasa yang Afdhal bagi Musafir?

Posted on July 24, 2012 By

 

            Seperti sudah kita ketahui bahwa musafir boleh berbuka puasa sebagaimana Allah berfirman: “Barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka mengganti puasa di hari yang lain”,

Ulama fiqih –Rahimahumullah- telah berselisih pendapat dalam menentukan jarak perjalanan yang dibolehkan mengambil rukhsah perjalanan. Ulama mazhab Hanafi mereka tidak menentukan jarak tapi menjadikan perjalanan yang memakan jarak tempuh tiga hari dengan berjalan biasa. Sedangkan jumhur fuqaha’ yaitu ulama mazhab Maliki, Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa perjalanan yang boleh ruhkshah yaitu perjalanan yang dianggap safar yaitu melebihi 80 km. Jarak bukan dihitung dari rumah musafir, tetapi dari batas kota tempat tinggalnya ke batas kota tujuan, harus lebih dari 80 km.

Ulama fiqih telah sepakat bahwa seorang musafir mendapatkan banyak keringanan dalam masalah hukum, dan keringanan itu karena sesungguhnya perjalanan melelahkan dan berat, bahkan perjalanan merupakan sebagian dari azab. Rasulullah SAW bersabda: “Perjalanan itu sebagian dari azab, yang menghalangi seseorang untuk makan dan minum, jika perjalanannya telah selesai maka segeralah ia menuju keluarganya”. (Muttafaqun’laihi)

Tetapi pertanyaan yang sering diajukan: jikalau perjalanan tersebut tidak ada kesulitan, seperti melakukan perjalanan dengan mobil atau pesawat terbang yang dilengkapi dengan tempat tidur yang nyaman dan ruangan ber-AC tidak ada kesusahan dalam perjalanan tersebut, apakah boleh mengambil keringanan puasa dalam perjalanan tersebut?

Jawaban : Para ulama telah menetapkan bahwa perjalanan sebab yang dibolehkan mengambil keringanan hukum, walau tidak ada dalam perjalanan tersebut kepayahan. Benar, bahwa kepayahan dalam perjalanan merupakan hikmah yang karenanya boleh mengambil keringanan (rukhsoh) bagi musafir, akan tetapi tatkala hikmah tersebut tidak ada ukuran, maka sesuatu yang dianggap kesulitan pada satu waktu, atau seseorang, terkadang menjadi tidak ada kesulitan pada waktu lain atau menurut orang lain. Maka perjalanan yang panjang merupakan kesulitan yang menjadi sebab  bolehnya mengambil rukhsoh.

Imam Qarafi berkata: “Sesungguhnya sifat yang dianggap dalam suatu hukum apabila memungkinkan terwujudnya tidak boleh berpaling kepada yang lain seperti sebab haramnya khamar karena memabukkan, sekalipun tidak terwujud mabuk tetap di posisikan hukum mabuk, karena tidak terjadinya mabuk boleh jadi disebabkan kadar yang berbeda. Sama halnya seperti kesusahan dalam perjalanan tatkala ia merupakan sebab untuk bolehnya meringkas sholat dan yang mana kesusahan tersebut tidak dapat diukur serta kemampuan manusia yang tidak sama dalam menahan kesusahan, terkadang tampak jelas dan terkadang tidak tampak, seperti ini sulit menetapkan standar hukumnya; maka dihukumi hanya dengan perkiraan yaitu 4 bard (lebih dari 80 km) yang diperkirakan terdapat padanya kesulitan dalam perjalanan”.

Walaupun  dengan berkembangnya sarana transportasi modern tidak dapat dipastikan tidak adanya kesusahan dalam perjalanan, karena sesungguhnya para musafir kebanyakan tidak tenang pikirannya dalam perjalanan, pikirannya selalu di was-was; seperti mobil rusak atau pesawat jatuh, dll. Kesusahan bisa saja datang tiba-tiba tanpa diperkirakan sebelumnya.

Oleh karena itu boleh berbuka bagi orang musafir, walaupun ia bersafar menggunakan pesawat atau mobil yang ber-AC atau pada waktu musim dingin. Boleh bagi musafir yang bersafar dengan pesawat untuk berbuka dan mengqhosor sholat dalam perjalanan satu jam atau kurang dari satu jam, selama masih dianggap perjalanan dan menempuh jarak perjalanan yang membolehkan untuk qhosor.

Boleh juga bagi orang yang terus menerus melakukan perjalanan tetapi mereka mempunyai keluarga dan tempat mukim seperti supir bus antar kota, sopir ekspedisi, pilot, masinis dan pramugarinya dan lain-lain untuk mengambil rukhsoh perjalanan, seperti bolehnya qoshor sholat dan berbuka puasa dalam perjalanan, karena pada hakikatnya mereka seorang musafir, dan mereka wajib mengganti apabila kembali kepada keluarga atau pada musim dingin karena demikian lebih meringankan mereka.

Mana yang afdhal bagi musafir,  berbuka atau berpuasa?

Terjadi perselisihan di antara ulama dalam hal ini, namun pendapat yang lebih kuat dengan dirinci seperti berikut ini :

  1. Jika musafir mendapatkan kesulitan dalam perjalanan walaupun sedikit maka yang lebih baik adalah berbuka karena perkataan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Allah lebih mencintai untuk diambil keringananNya sebagaimana mencintai melakukan kewajiban-kewajiban yang ia wajibkan” dan pada riwayat yang lain “Sebagaimana ia membenci orang-orang yang melakukan maksiat-maksiat”.
  2. Jika musafir menemui kepayahan yang sangat besar maka Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ”Bukanlah suatu kebaikan berpuasa dalam suatu perjalanan”.
  3. Jika tidak adanya kesusahan dalam perjalanan maka tidak diragukan lagi lebih baik berpuasa.

Karena sesungguhnya berpuasa saat ini lebih cepat dalam menunaikan kewajiban dan memudahkan juga bagi mukallaf. Berpuasa bersama-sama dengan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan lebih mudah, daripada menggantinya dihari yang lain. Ini juga yang dilakukan oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam; yang mana  ia berpuasa dalam perjalanan karena ia tidak terbebani berpuasa pada perjalanan sebagaimana orang lainnya.

Puasa